Kenapa Anak Zaman Now Meremehkan Hizbul Wathan, Padahal Dulu Bikin Belanda Senewen?

Table of Contents
Kenapa Anak Zaman Now Meremehkan Hizbul Wathan, Padahal Dulu Bikin Belanda Senewen?
Ilustrasi Gambar oleh Sudut Pandang

Kalau ada satu hal di sekolah Muhammadiyah yang paling sering bikin siswa mengeluh—selain ujian matematika jam terakhir—jawabannya adalah: latihan Hizbul Wathan (HW).

Bayangkan adegan klasik ini: matahari sedang terik-teriknya, keringat bercucuran di dahi, dan kamu berdiri tegap memakai seragam kepanduan sambil menghafal simpul tali atau berbaris di lapangan. Di dalam hati, sebagian besar siswa mungkin membatin, 
Duh, buat apa sih kita kepanasan begini? Memangnya di masa depan kita bakal survive dari serangan alien pakai simpul pangkal?”
Eits, tunggu dulu. Sebelum kamu terburu-buru mengutuk jam latihan kepanduan minggu ini, ada baiknya kita tarik garis sejarah ke belakang. Sebab, kalau kamu tahu asal-usulnya, gerakan kepanduan yang sering kamu sepelekan ini sebenarnya adalah alasan kenapa bangsa ini pernah punya jenderal paling disegani dalam sejarah Indonesia.

Cuma Berawal dari Nonton Latihan di Solo, Tapi Bikin Pergerakan Gempar

Semuanya bermula pada tahun 1918. Waktu itu, pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, baru saja selesai memberikan pengajian di Surakarta. Di dekat alun-alun Mangkunegaran, beliau tidak sengaja melihat anak-anak muda Jawa yang tergabung dalam Javansche Padvinders Organisatie (JPO) sedang latihan baris-berbaris dengan seragam rapi dan disiplin tinggi.

Bagi orang biasa, pemandangan itu mungkin cuma tontonan sore yang menarik. Tapi bagi Kyai Dahlan, itu adalah pencerahan besar. Beliau berpikiran jauh ke depan: “Kenapa anak-anak muda muslim tidak dididik dengan metode kepanduan yang menyenangkan dan menantang seperti itu untuk membentengi akidah dan mental mereka?”

Sepulangnya ke Yogyakarta, beliau langsung memprakarsai berdirinya Padvinder Muhammadiyah. Baru pada tahun 1920, atas usulan K.H. R. Hadjid, nama tersebut diubah menjadi Hizbul Wathan yang bermakna "Pembela Tanah Air".

Coba resapi namanya: Pembela Tanah Air. Sejak awal lahirnya, HW memang tidak dirancang hanya untuk gaya-gayaan berseragam, apalagi cuma sekadar formalitas pengisi jam kosong di sekolah.

Ketika 'Anak Pandu' Menjadi Panglima Besar Republik

Kalau kamu mikir HW cuma ekskul baris-berbaris biasa, kamu wajib tahu fakta sejarah satu ini.

Siapa pahlawan nasional terhebat yang gambarnya sering dipajang di dinding kelasmu? Ya, Panglima Besar Jenderal Soedirman. Dan tahukah kamu bahwa Soedirman muda adalah seorang anak tentara guru sekaligus pimpinan Pandu Hizbul Wathan? Kedisiplinan, ketahanan fisik di hutan, hingga taktik gerilya yang bikin penjajah pusing tujuh keliling itu tergempa dari tradisi kepanduan HW.

Bahkan ada cerita menarik: ketika Presiden Soekarno meminta Soedirman untuk menjadi Panglima TNI, Soedirman tidak langsung mengiyakan begitu saja. Sebagai kader yang tahu etika berorganisasi, beliau meminta izin dan persetujuan terlebih dahulu kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebelum menerima amanah besar tersebut.

Dua pahlawan nasional dan tokoh-tokoh penting lain seperti Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Kasman Singodimedjo, hingga Haji Adam Malik juga lahir dari rahim perkaderan RT HW. Jadi, ketika kamu berdiri di lapangan latihan HW hari ini, kamu sebenarnya sedang berdiri di jejak langkah para pendiri Republik ini.

10 Undang-Undang HW: 'Tamparan' Pedas Buat Generasi Doomscrolling

Beda dari organisasi lain yang sibuk bikin aturan rumit, HW punya 10 Undang-Undang Pandu yang kalau dibaca hari ini rasanya seperti sindiran halus buat kebiasaan anak muda zaman now:
  1. Dapat dipercaya. (Bukan tipe orang yang suka nyebar hoaks di grup WhatsApp).
  2. Setia dan teguh hati. (Tidak gampang ghosting atau plin-plan).
  3. Siap menolong dan wajib berjasa.
  4. Suka perdamaian dan persaudaraan.
  5. Sopan santun dan perwira.
  6. Menyayangi semua makhluk.
  7. Melaksanakan perintah tanpa membantah.
  8. Sabar dan pemaaf.
  9. Teliti dan hemat. (Antidosis buat budaya impulsive buying atau boros kuota).
  10. Suci dalam hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan. (Bebas dari toxic comment di media sosial).
Atributnya pun penuh makna filosofis. Lambang HW berbentuk matahari bersinar utama 12, melambangkan bahwa seorang pandu harus memancarkan sinar pribadi muslim sepanjang hari. Simbolnya adalah bunga melati putih lima helai (Rukun Islam) dengan pita bertuliskan kalimat Arab Fastabiqul Khairaat (berlomba-lombalah dalam kebajikan) yang melengkung seperti mulut tersenyum. Artinya, seorang pandu HW harus selalu menjalankan kebaikan dengan wajah yang riang gembira, bukan dengan menderita.

Bahkan bendera HW yang terdiri dari 6 garis hijau dan 5 garis kuning mendatar dengan ukuran standar 99x148,5 cm pun dirancang penuh perhitungan estetika dan identitas.

Pernah Dipaksa 'Lembur' dan Dilebur, Tapi Tetap Bangkit

Perjalanan HW tidak selalu mulus. Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), HW sempat dilarang beraktivitas. Lalu pada tahun 1961, lewat Keputusan Presiden No. 238 Tahun 1961, seluruh organisasi kepanduan di Indonesia dipaksa melebur ke dalam Gerakan Pramuka. HW pun harus vakum secara organisatoris selama puluhan tahun.

Namun, akar rumput yang kuat tidak pernah benar-benar mati. Pasca-Reformasi, Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi membangkitkan kembali Hizbul Wathan pada tanggal 18 November 1999.

Kenapa dihidupkan lagi? Karena Muhammadiyah sadar: anak muda butuh wadah pembentukan karakter yang tidak hanya melatih fisik, tapi juga menyentuh nilai akidah Islam dan kemandirian secara langsung di alam terbuka.

Sistemnya dibangun berjenjang dan rapi:
  1. Tunas Athfal (usia 4–6 tahun) & Athfal (7–9 tahun dengan jenjang Melati 1, 2, 3).
  2. Pengenal (10–14 tahun dengan jenjang Purwa, Madya, Utama).
  3. Penghela (15–18 tahun dengan jenjang Taruna Melati 1, 2).
  4. Penuntun (19–22 tahun).
Panggilannya pun hangat dan penuh kekeluargaan: pelatih dipanggil Ramanda/Ibunda (jika sudah menikah) atau Rakanda/Ayunda (jika belum), sementara peserta didik dipanggil Auladi, Ananda, atau Adinda.

Masih Mau Ngeluh Panas-Panasan?

Menjadi anggota Hizbul Wathan memang enak capek. Kamu harus latihan scrol-scrol baris-berbaris, belajar bertahan hidup di alam terbuka dengan sistem terpisah putra-putri, sampai diuji kaji kemampuan kecakapannya.

Tapi ingat, di balik seragam cokelat-kuning dan bendera hijau-kuning itu, ada sejarah panjang tentang bagaimana anak-anak muda dididik untuk tidak cengeng menghadapi zaman. HW bukan cuma soal tali-temali; HW adalah laboratorium mental agar kamu tidak gampang menyerah saat diterjang badai kehidupan kelak.
Jadi, ketika minggu depan kamu berdiri lagi di lapangan untuk latihan HW, jangan cuma bayangkan panasnya matahari. Bayangkan bahwa dulu, di bawah terik yang sama, seorang Soedirman muda sedang berdiri di barisan yang sama denganku—bersiap menjadi benteng bagi bangsanya.
Masih mau bikin alasan buat bolos latihan HW minggu ini?

Gimana? Apakah kamu punya pengalaman unik atau kesal-kesal pas ikutan kegiatan Hizbul Wathan di sekolahmu? Bagikan pendapatmu di kolom komentar berikut ini!
Sudut Pandang
Sudut Pandang Menyajikan renungan, inspirasi, dan pandangan tentang Islam, pendidikan, serta makna hidup dari sisi iman dan ilmu. Temukan gagasan segar yang mencerahkan hati dan pikiran.

Post a Comment