Ketika Iman Dipaksa Tunduk pada Logika Sains

Table of Contents
sebuah ilustrasi

Melihat postingan video di media sosial akhir-akhir ini seorang membahas keyakinan atau kepercayaan, pernyataan ini terdengar sangat akademis sekaligus provokatif:
Jika sebuah keyakinan sudah bisa dibuktikan, maka ia bukan lagi keyakinan, melainkan pengetahuan".
Premis ini kebetulan digunakan dalam video tersebut untuk membedah agama, seolah-olah iman adalah sebuah hipotesis yang sedang menunggu validasi laboratorium. Namun, benarkah iman harus diperlakukan selayaknya rumus fisika atau penemuan arkeologi?

Gagasan ini sebenarnya berakar dari tradisi filsafat positivisme yang menuntut bukti empiris atas segala sesuatu. Masalahnya, ketika logika ini dipaksakan masuk ke wilayah sakral seperti agama—khususnya Islam—terjadi benturan epistemologis yang keras. Bagi seorang Mukmin, kebenaran Al-Quran dan Hadits bukanlah sesuatu yang "sedang dicari", melainkan "sudah final" ada depan mata kita sendiri yaitu Al-Qur'an.

Iman Bukan Hipotesis

Dalam sains, sebuah teori dianggap benar selama belum ada bukti yang menggugurkannya. Pun demikian, sebuah keyakinan tidak akan pernah menjadi kenyataan jika tidak bisa dibuktikan. 

Kebenaran sains bersifat tentatif dan dinamis. Sebaliknya, dalam keyakinan beragama, kebenaran bersifat absolut karena bersumber dari wahyu. Mengatakan bahwa keyakinan baru menjadi pengetahuan setelah dibuktikan secara sains adalah upaya mengecilkan derajat wahyu di bawah otoritas akal manusia. Why???

Jika kita menggunakan kacamata Al-Quran, jawaban atas segala keraguan sudah terpampang nyata. Namun, pertanyaannya adalah: mengapa masih ada orang yang mencoba "mensainskan" iman atau justru meragukannya dengan dalih logika?

Di sinilah letak kesalahpahaman para pemikir yang terlalu mendewakan logika formal. Mereka lupa bahwa dalam Islam, ada wilayah ghayb (gaib) yang memang tidak dirancang untuk dipahami melalui mikroskop atau teleskop. Memaksa membuktikan keberadaan malaikat atau akhirat dengan parameter sains bukan hanya salah sasaran, tetapi juga menunjukkan kegagalan memahami hakikat agama itu sendiri.

Risiko di Ruang Publik

Pernyataan-pernyataan filosofis yang menggugat batas antara iman dan pengetahuan ini mungkin terasa renyah di meja-meja diskusi kampus atau jurnal ilmiah. Di sana, keraguan dianggap sebagai awal dari ilmu pengetahuan. Namun, membawa narasi serupa ke tengah masyarakat awam adalah tindakan yang gegabah, bahkan cenderung berbahaya, alih-alih mengedukasi masyarakat.

Bagi mayoritas pemeluk agama, iman adalah jangkar kehidupan, bukan bahan eksperimen. Ketika seseorang mulai mengaburkan batasan antara "percaya" dan "tahu" dengan nada skeptis, masyarakat akan dengan cepat melabelinya sebagai "sesat". 

Label ini bukan tanpa alasan. Secara sosiologis, masyarakat membutuhkan kepastian, bukan abstraksi filsafat yang membuat mereka ragu pada dasar-dasar peribadatan mereka.

Oleh karena itu, para intelektual semestinya memiliki kearifan ruang. Pemikiran yang bersifat dekonstruktif terhadap iman mungkin memiliki tempat dalam perdebatan akademik yang ketat, tetapi ia kehilangan relevansinya—dan justru memicu konflik—ketika dilempar ke ruang publik yang heterogen. 

Ruang publik membutuhkan panduan moral dan ketenangan spiritual, bukan kegaduhan logis yang tidak berujung.

Kebutaan Hati dan Batas Akal

Menariknya, Al-Quran sendiri sudah memberikan peringatan keras bagi mereka yang menutup diri dari kebenaran wahyu, meski seribu argumen logis disodorkan. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 6 dan 7, Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat."

Ayat ini menegaskan bahwa masalah keimanan bukan sekadar masalah "bukti" atau "logika". Jika hati sudah terkunci, sedalam apa pun riset sains atau setajam apa pun logika filsafat digunakan, hidayah tidak akan masuk. Artinya, pembuktian sains bukanlah variabel penentu dalam iman seseorang. Kebenaran sudah ada di depan mata melalui teks suci, namun perangkat penerimanya—yakni hati dan jiwa—itulah yang sering kali bermasalah.

Mereka yang mencoba merasionalkan seluruh isi Al-Quran agar sesuai dengan standar sains modern sebenarnya sedang terjebak dalam rasa rendah diri intelektual. Seolah-olah Al-Quran baru dianggap hebat jika disetujui oleh jurnal sains Barat. Padahal, Al-Quran adalah kriteria (Al-Furqan), ia adalah standar kebenaran itu sendiri, bukan objek yang harus distandarisasi oleh temuan manusia yang bisa berubah sewaktu-waktu.

Simpulan

Pada akhirnya, kita harus berani menarik garis tegas: sains adalah urusan manusia memahami alam, sementara iman adalah hubungan manusia dengan Pencipta melalui wahyu. Menyamakan riset sains dengan pembuktian iman adalah sebuah kekeliruan kategori.

Bagi para pemikir yang gemar mengutak-atik logika keyakinan, sebaiknya pahami bahwa tidak semua hal bisa diringkas dalam rumus atau data statistik. Simpanlah perdebatan itu di ruang tertutup akademik jika memang tujuannya adalah diskursus. Sebab di ruang publik, masyarakat tidak butuh pembuktian bahwa Tuhan itu "ada" secara empiris; mereka hanya butuh keyakinan bahwa Tuhan selalu "hadir" dalam setiap tarikan napas mereka.

Iman adalah pengetahuan tertinggi yang tidak membutuhkan validasi dari laboratorium manapun. Jika Al-Baqarah sudah menyatakan bahwa hati bisa terkunci, maka di sanalah batas akhir dari segala argumen logika manusia. (sp~).

Sudut Pandang
Sudut Pandang Menyajikan renungan, inspirasi, dan pandangan tentang Islam, pendidikan, serta makna hidup dari sisi iman dan ilmu. Temukan gagasan segar yang mencerahkan hati dan pikiran.

Post a Comment