Generasi "POV": Ketika Pengetahuan Agama Menyusut di Balik Layar Ponsel

Table of Contents
Generasi POV

Ruang kelas sore menjelang pulang itu mendadak sunyi. Sebuah pertanyaan sederhana saya lontarkan untuk memantik diskusi dalam mata pelajaran Kemuhammadiyahan: "Berapa lembar kalian membaca buku agama dalam sehari?"

Hasilnya jauh dari ekspektasi, bahkan cenderung mengkhawatirkan. Mayoritas siswa terdiam, saling lirik, lalu menggeleng. Tidak ada satu pun lembar buku yang mereka lahap secara rutin. Hanya ada satu siswa yang mengangkat tangan dengan ragu, mengaku membaca satu halaman per hari tentang kisah nabi—itu pun dengan gelagat yang kurang meyakinkan.

Fenomena ini bukan sekadar urusan malas membaca, melainkan sinyal merah bagi kualitas intelektual generasi muda kita. Di tengah banjir informasi digital, buku teks dan literasi mendalam tampaknya telah menjadi barang asing yang membosankan di mata siswa.

Jebakan Konten Berdurasi Pendek

Ironi mencapai puncaknya ketika seorang siswa nyeletuk dengan percaya diri, "Kita belajar agama dari POV video pendek, Pak."

Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi dunia pendidikan. Kita sedang berhadapan dengan generasi yang merasa sudah "paham" hanya dengan menonton video berdurasi 60 detik di TikTok, Short, dan Instagram Reels. Mereka merasa telah menguasai substansi agama lewat potongan video yang sering kali sudah dipoles dengan musik latar dramatis dan narasi yang dipotong-potong demi kepentingan algoritma.

Belajar agama—atau ilmu apa pun—melalui sudut pandang (point of view; intinya, red) singkat adalah sebuah kekeliruan fatal. Ilmu pengetahuan, apalagi yang berkaitan dengan teologi dan sejarah seperti Kemuhammadiyahan, memiliki struktur yang sistematis. Ada sanad, ada konteks sejarah, dan ada argumentasi logis yang panjang.

Ketika pengetahuan ini dipadatkan menjadi konten satu menit, yang tersisa hanyalah kulitnya. Kedalaman makna hilang, digantikan oleh pemahaman yang dangkal dan fragmentaris. Dampaknya? Kita memiliki generasi yang tahu "katanya", tapi tidak tahu "mengapa" dan "bagaimana" dasar hukum atau sejarah itu terbentuk.

Literasi sebagai Benteng Pertahanan

Dalam kelas tersebut, saya menegaskan bahwa pelajaran agama dari tingkat SD hingga SMA adalah satu kesatuan yang saling berkaitan. Jika mereka tidak pernah membaca, pondasi pengetahuan mereka akan keropos. Bagaimana mungkin seorang guru bisa membangun diskusi yang conect dengan siswanya jika referensi dasar saja tidak dimiliki?

Namun, ada ancaman yang lebih besar di balik rendahnya minat baca ini. Di dunia luar, diskursus keagamaan tidak selalu berjalan di ruang yang netral. Sejarah mencatat bahwa banyak pihak mempelajari Islam secara mendalam justru untuk mencari celah dan melemahkan keyakinan umat dari dalam.

Jika siswa kita hanya bersandar pada video pendek, mereka akan menjadi sasaran empuk disinformasi. Tanpa kemampuan literasi yang kuat, mereka tidak akan mampu membedakan mana tafsir yang otoritatif dan mana narasi yang sengaja dipelintir. Pengetahuan yang dangkal adalah pintu masuk paling mudah bagi manipulasi ideologi.

Membaca buku bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang, melainkan upaya membangun imunitas intelektual. Buku memberikan ruang bagi pembaca untuk berhenti sejenak, berpikir, dan mencerna. Sesuatu yang tidak diberikan oleh kecepatan gulir (scrolling) layar ponsel.

Mengembalikan Buku ke Tangan Siswa

Kita tidak bisa membiarkan ruang kelas hanya menjadi tempat "menyuapi" siswa yang pasif. Literasi harus dikembalikan sebagai jantung pendidikan. Akrab dengan buku adalah keharusan, bukan pilihan.

Siswa perlu disadarkan bahwa untuk memahami dunia yang kompleks ini, mereka tidak bisa hanya mengandalkan ringkasan di kolom komentar atau video viral. Belajar agama membutuhkan ketekunan untuk membalik halaman demi halaman, memahami alur pemikiran para tokoh, dan meresapi nilai-nilai di dalamnya secara utuh.

Jika kita terus membiarkan generasi ini hanya belajar dari "POV" singkat, jangan kaget jika di masa depan kita memiliki masyarakat yang sangat vokal di media sosial, namun kosong secara substansi. Kita butuh anak muda yang tidak hanya jago memegang ponsel, tetapi juga teguh memegang buku. Sebab, hanya dengan literasi yang kuat, mereka bisa menjaga keyakinan dan akal sehat dari gempuran informasi yang kian tidak terkendali.

Pada akhirnya, guru dan orang tua memiliki tugas berat: meyakinkan anak-anak bahwa ilmu pengetahuan yang berbobot tidak bisa didapatkan secara instan. Ia harus dicari, dibaca, dan direnungkan. Jangan sampai pengetahuan kita tentang Tuhan dan kehidupan hanya sebatas durasi video yang akan hilang dalam sekali usap layar.

Sudut Pandang
Sudut Pandang Menyajikan renungan, inspirasi, dan pandangan tentang Islam, pendidikan, serta makna hidup dari sisi iman dan ilmu. Temukan gagasan segar yang mencerahkan hati dan pikiran.

Post a Comment