Kuota Makin Murah, Tapi Ngobrol Tatap Muka Makin Mahal

Table of Contents
Kuota Makin Murah, Tapi Ngobrol Tatap Muka Makin Mahal

Di era ketika kuota internet semakin murah dan koneksi digital semakin cepat, justru perhatian manusia menjadi barang langka. Kita terhubung dengan ribuan orang, tetapi sering kehilangan percakapan yang paling dekat.

“Yang Murah Itu Kuota Internetnya, Tapi Kehadiran dan Perhatian Harganya Makin Mahal.”

Pernah nggak sih sampeyan nongkrong di warkop, pesen kopi hitam yang asapnya masih ngebul, niatnya mau misuh-misuh soal kerjaan atau sekadar ngomongin susahnya nyicil KPR, eh teman-teman di depan muka malah pada nunduk semua? Satu orang sibuk push rank sambil mulutnya komat-kamit maki-maki, satu lagi cengar-cengir sendiri matanya lengket ke FYP TikTok. Saya ngomong panjang lebar sampai berbusa, responsnya cuma, "Hah? Gimana-gimana, sori bro tadi gue nggak denger."

Rasanya pengen saya siram itu muka pakai sisa kopi. Sayangnya, kopinya keburu dingin.

“Komunikasi zaman sekarang itu harganya mahal minta ampun.”

Di momen-momen ngenes macam itulah saya sadar satu hal: komunikasi zaman sekarang itu harganya mahal minta ampun. Ironis memang. Padahal kalau dipikir-pikir secara matematis, operator seluler lagi banting harga gila-gilaan. Dulu zaman saya SMP, mau balas SMS pakai "Y" atau "G" aja mikir panjang karena sayang pulsa 150 perak. Sekarang? Kuota puluhan Gigabyte bisa ditebus pakai duit jajan sehari. Harusnya akses buat saling ngobrol makin gampang dan murah dong?

Nyatanya nggak. Yang murah itu cuma koneksi internetnya, tapi kehadiran dan perhatian harganya meroket tajam kayak harga beras menjelang Lebaran.

“Yang murah itu cuma koneksi internetnya.”
“Kehadiran dan perhatian justru makin mahal.”

Buat saya pribadi, ngobrol itu adalah sebuah ritual suci antarteman. Ada kontak mata yang mengunci, ada intonasi suara yang naik turun, ada momen ketika kita saling memotong omongan karena saking excited-nya. Tapi sekarang ritual itu dibajak secara brutal oleh benda persegi seukuran telapak tangan beralas Gorilla Glass. Kita bisa duduk berdempetan di satu meja, tapi secara mental, kepala kita lagi traveling ke benua yang beda-beda.

Saya sempat nyari pembenaran ilmiah soal fenomena ngeselin ini, cuma buat memastikan kalau saya nggak sendirian yang merasa jengkel. Ternyata kelakuan teman-teman saya (dan mungkin kelakuan sampeyan juga) itu ada istilah akademisnya: Phubbing, singkatan dari phone snubbing (mengabaikan orang karena sibuk main hape).

“Phubbing = Mengabaikan Orang Karena Sibuk Main Hape.”

Dalam sebuah penelitian yang cukup terkenal di jurnal Computers in Human Behavior (Roberts & David, 2016), para peneliti menemukan fakta yang sebenarnya nggak mengagetkan amat: phubbing secara signifikan menghancurkan kualitas komunikasi, menurunkan kepuasan hubungan, dan pada akhirnya bikin orang merasa terasing.

Ya iyalah! Logikanya begini saja: gimana sampeyan nggak merasa terasing kalau lagi cerita serius soal di-PHK kantor atau patah hati ditinggal rabi, eh lawan bicara sampeyan malah matanya meleng ke layar sambil bilang, "Bentar ya, nanggung nih war di mid-lane." Coba, di mana letak perikemanusiaan dan keadilan sosialnya?

“Kita mengharapkan lebih banyak dari teknologi, dan lebih sedikit dari satu sama lain.”

Sherry Turkle, seorang profesor dari MIT yang menulis buku legendaris Alone Together, pernah merangkum ironi ini dengan satu kalimat yang nampar banget: "Kita mengharapkan lebih banyak dari teknologi, dan lebih sedikit dari satu sama lain."

Kalimat itu buat saya adalah horor di era modern. Kita merasa bangga 'terhubung' dengan ribuan orang lewat reply Instagram Story atau retweet di X (yang dulu namanya Twitter itu). Tapi lucunya, kita justru merasa sangat kesepian waktu lagi duduk di ruang tamu bareng keluarga atau nongkrong sama sahabat sendiri. Kita setengah mati takut ketinggalan gosip selebgram, tapi kita dengan santainya melewatkan momen nyata di depan mata. Kita jadi masyarakat yang rabun dekat.

“Kita terhubung dengan ribuan orang, tetapi kehilangan percakapan dengan orang yang duduk di depan kita.”

Jadi ya begitulah. Buat sampeyan yang baca tulisan ini, kalau mau ngetes seberapa berharganya diri sampeyan buat seseorang di era sekarang, nggak perlulah minta dibayarin makan mahal atau dibeliin barang branded. Terlalu ribet.

Cukup ajak dia ngopi berdua, duduk berhadapan. Lalu hitung, berapa lama dia bisa nahan diri buat nggak mengelus layar hapenya. Kalau dia bisa fokus menatap mata sampeyan, mendengarkan semua keluh kesah sampeyan yang nggak penting itu selama sejam penuh tanpa ngecek notifikasi, tolong pertahankan orang itu. Jadikan sahabat atau jadikan pasangan. Orang dengan level attention span dan rasa hormat seperti itu spesiesnya nyaris punah.

“Kalau dia bisa mendengarkan tanpa mengecek notifikasi, pertahankan orang itu.”

Saya sendiri akhirnya cuma bisa menghela napas, nyeruput kopi hitam yang udah dingin tadi. Teman di depan saya akhirnya naruh hapenya, ngelihat ke saya dan bilang dengan tampang tanpa dosa, "Eh sori, tadi lo cerita apa bro?"

Saya cuma senyum kecut. "Nggak apa-apa. Udah basi. Kayak tongkrongan kita malam ini."

“Kuota Makin Murah, Tapi Ngobrol Tatap Muka Makin Mahal.”

Mungkin yang langka hari ini bukan internet cepat, melainkan manusia yang benar-benar hadir saat kita berbicara.

Sudut Pandang
Sudut Pandang Menyajikan renungan, inspirasi, dan pandangan tentang Islam, pendidikan, serta makna hidup dari sisi iman dan ilmu. Temukan gagasan segar yang mencerahkan hati dan pikiran.

Post a Comment