Dunia Tidak Kejam, Ekspektasi Kita yang Ketinggian: Rahasia Membentuk Karakter Anak Melalui Latihan
Banyak orang tua ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik. Namun, benarkah karakter terbentuk dari nasihat semata? Atau justru lahir dari latihan-latihan kecil yang dilakukan setiap hari?
Banyak orang tua sering kali merasa kewalahan dalam mendidik anak dan berharap sang buah hati langsung memiliki karakter yang mulia atau "akhlakul karimah." Namun, menurut dr. Ryu, seorang pakar kesehatan otak, sering kali masalahnya bukan pada sang anak, melainkan pada ekspektasi orang tua yang terlalu tinggi. Beliau mengibaratkan, jika seekor kucing memecahkan gelas, kita mungkin tidak marah, namun jika anak yang melakukannya, kita bisa sangat marah karena adanya perbedaan ekspektasi tersebut.
Berhenti Mencari Rumus, Mulailah Berlatih
Dalam dunia parenting, banyak orang tua terjebak mencari "rumus" instan untuk mencetak generasi penerus yang ideal. Padahal, menurut dr. Ryu, tidak ada rumus universal untuk membentuk manusia. Kunci utama dari pembentukan karakter bukanlah sekadar nasihat, melainkan latihan yang konsisten sejak dini.
Beliau mencontohkan pola pendidikan di Jepang. Anak-anak di sana tidak hanya diberi nasihat untuk menjadi anak baik, tetapi dilatih melakukan hal-hal konkret sejak bayi. Misalnya:
- Kemandirian sejak dini: Melatih anak tidur terpisah dan membiarkan mereka belajar menenangkan diri saat menangis (setelah memastikan kebutuhan dasarnya terpenuhi).
- Syarat Masuk TK: Di Jepang, syarat masuk TK bukanlah bisa membaca atau menulis, melainkan kemampuan dasar seperti bisa buang air sendiri di toilet, makan sendiri, dan membuang sampah pada tempatnya.
- Simulasi Kehidupan: Anak-anak dilatih secara rutin (seminggu tiga kali) untuk naik bus, mendahului ibu hamil atau lansia, hingga cara menyeberang jalan yang aman.
Latihan-latihan inilah yang membentuk karakter mereka hingga dewasa, sehingga kebiasaan seperti mengucap terima kasih atau mengantre menjadi sesuatu yang otomatis karena sudah terlatih ribuan kali.
Tantangan Digital: "Tunggu Anak Siap"
Selain pola asuh fisik, tantangan besar bagi orang tua saat ini adalah paparan media sosial. dr. Ryu secara tegas menyatakan bahwa anak di bawah usia 16 tahun sebaiknya tidak menggunakan smartphone atau media sosial.
Hal ini didukung oleh regulasi terbaru dari pemerintah. Ibu Moli dari Kementerian Komunikasi dan Digital menjelaskan adanya PP Tunas (Tunggu Anak Siap) atau PP Nomor 17 Tahun 2025. Regulasi ini mengatur:
- Pembatasan usia: Anak baru diperbolehkan memiliki akun media sosial setelah berusia 16 tahun.
- Perlindungan dari risiko digital: Mengingat tingginya risiko paparan konten negatif, judi online, hingga pinjaman online (pinjol) yang mulai menyasar anak-anak.
Prinsip sederhana yang menjadi dasar perlindungan anak di era digital.
Kesimpulan
Membentuk karakter anak adalah tentang keselarasan antara pola asuh yang dipilih dan latihan yang diberikan. Jika kita menginginkan anak memiliki karakter tertentu, maka kita harus melatih mereka setiap hari dalam lingkungan yang mendukung, bukan sekadar memberikan beban ekspektasi yang berat di pundak mereka.
Data Narasumber:
- dr. Ryu: Pakar kesehatan otak/Dokter yang menyoroti pembentukan karakter anak dari perspektif neurologi dan latihan perilaku.
- Ibu Moli: Perwakilan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdiji) yang memaparkan kebijakan regulasi perlindungan anak di dunia digital.
Youtube: tvOneNews - "dr Ryu: Dunia Tidak Kejam, Ekspektasi Kita Yang Ketinggian | Hari Anak Nasional"
Post a Comment
2. Komentar sensitif akan dihapus
3. Gunakan bahasa yang sopan dan saling menghargai perbedaan pendapat dan sudut pandang
4. Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE