Bau Rokok di Parkiran Siang Hari dan Alasan Mengapa Saya Berhenti
Sebuah pengalaman sederhana di parkiran supermarket mengingatkan bahwa bau rokok yang biasa bagi perokok bisa menjadi gangguan bagi orang lain. Dari sana lahir refleksi tentang kesehatan, keluarga, dan alasan mengapa berhenti merokok menjadi salah satu keputusan terbaik dalam hidup.
Siang itu matahari sedang berada di puncak teriknya. Saya baru saja keluar dari sebuah supermarket di wilayah sukoharjo menuju parkiran. Setelah belanja dan hendak pulang, saya berniat menunaikan salat Zuhur terlebih dahulu sebelum pulang.
Setelah itu, belum beberapa langkah berjalan menuju motor, tiba-tiba saya mencium aroma yang sangat familiar. yaitu Bau rokok.
Bukan sekadar tercium lalu hilang. Aroma itu begitu kuat bercampur dengan udara panas siang hari. Kepala saya langsung terasa sedikit pusing. Perut juga agak mual. Refleks saya menjauh dari sumber bau tersebut.
Saat itulah sebuah pikiran sederhana muncul dalam benak saya.
"Jadi begini rasanya menjadi orang yang tidak merokok ketika harus menghirup asap rokok orang lain."
Padahal saya bukan orang yang asing dengan rokok. Saya pernah merokok cukup lama. Bahkan seperti kebanyakan perokok lainnya, dulu saya merasa aroma rokok adalah sesuatu yang biasa.
Ketika masih merokok, saya berusaha menjaga etika. Saya tidak merokok di dekat anak kecil. Tidak merokok di dekat orang sakit. Tidak merokok di ruangan tertutup. Tidak merokok di tempat yang membuat orang lain menjadi korban.
Namun setelah bertahun-tahun berhenti, perspektif saya berubah. Ternyata bagi sebagian orang, aroma rokok yang dianggap biasa oleh perokok bisa terasa sangat mengganggu. Bahkan membuat pusing dan mual.
Saya kemudian membayangkan para perempuan yang tidak pernah merokok. Anak-anak yang masih kecil. Orang yang memiliki gangguan pernapasan. Mereka mungkin merasakan hal yang jauh lebih tidak nyaman dibanding yang saya rasakan siang itu.
Yang menarik, saya berhenti merokok bukan karena obat. Bukan karena terapi. Bukan pula karena dipaksa siapa pun.
Saya berhenti secara alami.
Kesibukan pekerjaan membuat waktu luang semakin sedikit. Lingkungan kerja yang sehat juga membantu. Lama-kelamaan frekuensi merokok berkurang sendiri. Dari beberapa batang sehari menjadi sesekali. Lalu semakin jarang hingga akhirnya berhenti sama sekali.
Tetapi kalau ditanya apa alasan terbesar saya berhenti merokok, jawabannya sederhana.
Saya ingin hidup lebih lama.
Semakin bertambah usia, cara pandang terhadap hidup ikut berubah. Ketika masih muda, tubuh terasa kuat. Begadang tidak masalah. Makan sembarangan tidak terasa dampaknya. Merokok pun dianggap biasa.
Namun seiring waktu, kita mulai menyadari bahwa tubuh memiliki batas. Tubuh yang kita gunakan hari ini adalah kendaraan yang sama yang akan kita pakai dua puluh atau tiga puluh tahun lagi.
Jika hari ini kita merusaknya, siapa yang akan menanggung akibatnya nanti?
Diri kita sendiri. Keluarga kita sendiri. Anak-anak kita sendiri.
Saya memiliki anak-anak yang masih tumbuh. Ada begitu banyak hal yang ingin saya saksikan dalam hidup mereka.
Saya ingin melihat mereka lulus sekolah. Saya ingin melihat mereka menemukan jalan hidupnya masing-masing. Saya ingin melihat mereka membangun keluarga yang baik. Saya ingin tetap sehat ketika mereka telah dewasa.
Dan yang paling penting, saya tidak ingin menjadi beban mereka di masa tua hanya karena saya mengabaikan kesehatan ketika masih memiliki kesempatan untuk menjaganya.
Mungkin inilah yang berubah ketika seseorang semakin dewasa. Kita tidak lagi berpikir tentang kenikmatan beberapa menit. Kita mulai memikirkan dampak beberapa puluh tahun ke depan.
Karena itu saya tidak pernah suka menghakimi perokok. Saya pernah berada di posisi yang sama. Saya tahu berhenti tidak selalu mudah.
Tetapi ada satu hal yang menurut saya bisa dilakukan siapa saja, bahkan jika belum siap berhenti sekalipun.
Yaitu memiliki empati.
Sadar bahwa ruang publik adalah ruang bersama. Bahwa ada anak kecil di sekitar kita. Ada ibu hamil yang sedang berjalan. Ada orang yang sedang sakit. Ada orang yang mungkin merasa pusing ketika menghirup asap yang bagi kita terasa biasa saja.
Pengalaman singkat di parkiran supermarket siang itu akhirnya mengingatkan saya pada satu hal penting.
Kita sering berkata bahwa keluarga adalah segalanya. Tetapi kadang kita lupa menjaga tubuh yang akan kita gunakan untuk menemani mereka selama mungkin.
Saya tidak sedang berkampanye antirokok. Saya juga tidak merasa lebih baik daripada mereka yang masih merokok.
Saya hanya bersyukur pernah mengambil keputusan untuk berhenti.
Karena hari ini saya bisa bernapas lebih lega. Bisa beraktivitas lebih nyaman. Bisa lebih tenang memikirkan masa depan. Dan memiliki peluang yang lebih besar untuk menemani anak-anak saya tumbuh hingga dewasa.
Mungkin pada akhirnya alasan terkuat seseorang berhenti merokok bukanlah karena larangan, bukan karena tekanan, dan bukan pula karena ancaman.
Melainkan karena ada sesuatu yang jauh lebih berharga yang ingin dijaga.
Bagi saya, sesuatu itu adalah kesehatan, keluarga, dan kesempatan untuk tetap hadir ketika orang-orang yang saya cintai membutuhkan saya.
Post a Comment
2. Komentar sensitif akan dihapus
3. Gunakan bahasa yang sopan dan saling menghargai perbedaan pendapat dan sudut pandang
4. Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE