Back to School 2026: Generasi TikTok Kembali ke Sekolah, Tapi Apakah Otaknya Ikut Kembali?
Sebagai guru PAI di SMA, saya selalu menyambut tahun ajaran baru dengan optimisme yang hampir setara dengan optimisme siswa saat berkata, "Pak, semester ini saya mau berubah."
Kalimat yang secara statistik memiliki tingkat keberhasilan yang kurang lebih sama dengan resolusi tahun baru.
Hari pertama sekolah selalu indah.
Siswa datang dengan seragam rapi.
Sepatu masih putih.
Buku masih lengkap.
Wajah masih ceria.
Bahkan beberapa terlihat sangat antusias mengikuti MPLS.
Namun pengalaman mengajarkan saya satu hal: jangan terlalu cepat terharu.
Karena biasanya semangat tersebut mulai mengalami penurunan drastis setelah berkenalan kembali dengan sesuatu yang bernama "tugas".
Sebagai guru, saya sering bertanya-tanya bagaimana generasi sekarang bisa menghafal begitu banyak hal yang sebenarnya tidak penting.
Mereka hafal nama akun TikTok yang viral minggu lalu.
Hafal lirik lagu yang bahkan belum sempat diputar di radio.
Hafal tren yang berubah setiap tiga hari sekali.
Tetapi ketika ditanya nama sahabat Rasulullah, suasana kelas tiba-tiba berubah seperti ruang sidang yang menunggu keputusan hakim.
Hening.
Sangat hening.
Kadang saya merasa algoritma TikTok adalah guru paling sukses di dunia.
Bayangkan saja.
Siswa bisa fokus menatap layar selama dua jam tanpa berkedip.
📌 Fenomena Generasi TikTok
- Lebih cepat mengenali tren daripada jadwal ulangan.
- Mampu menghafal lagu viral dalam hitungan jam.
- Kreatif membuat konten digital dengan berbagai platform.
- Terbiasa memperoleh informasi secara cepat dan visual.
Tetapi ketika guru menjelaskan materi selama sepuluh menit, sebagian sudah menunjukkan gejala-gejala ingin rebahan.
TikTok berhasil melakukan sesuatu yang selama puluhan tahun belum berhasil dilakukan oleh dunia pendidikan: membuat anak muda rela belajar sesuatu berjam-jam tanpa disuruh.
Masalahnya, yang dipelajari kadang adalah cara membuat transisi video menggunakan tutup botol atau cara memasak mi instan dengan tujuh jenis topping yang nilai gizinya masih diperdebatkan para ahli.
Saya pernah bertanya kepada siswa, "Berapa lama kalian main TikTok setiap hari?"
Jawaban mereka sangat kreatif.
"Ada Pak, paling cuma sebentar."
Ketika saya tanya lagi berapa lama "sebentar" menurut mereka, jawabannya berkisar antara tiga sampai lima jam.
Ternyata definisi sebentar pada generasi TikTok berbeda dengan definisi sebentar menurut manusia pada umumnya.
Fenomena lain yang menarik adalah kemampuan mereka membuat konten.
Kalau ada tugas membuat video, hasilnya luar biasa.
Transisi halus.
Musik pas.
Sudut pengambilan gambar sinematik.
Teks muncul dengan animasi yang membuat guru generasi 90-an bertanya-tanya apakah ini tugas sekolah atau trailer film.
Namun ketika diminta membuat rangkuman satu halaman, sebagian mendadak kehilangan seluruh bakat kreatifnya.
Tulisan tangan berubah seperti sandi rahasia yang bahkan penulisnya sendiri kesulitan membacanya.
Sebagai guru PAI, saya tidak termasuk kelompok yang anti teknologi.
Saya justru kagum melihat kemampuan generasi sekarang.
Mereka belajar lebih cepat.
Berani tampil.
Mudah beradaptasi.
Punya akses ilmu yang hampir tidak terbatas.
Masalahnya adalah ketika jari bergerak lebih cepat daripada pikiran.
Ketika setiap jeda harus diisi scrolling.
Ketika kesunyian terasa menakutkan.
Ketika lima belas detik video terasa menarik, tetapi lima belas menit membaca terasa menyiksa.
Padahal hidup tidak selalu berjalan secepat video TikTok.
Kesuksesan tidak datang dalam bentuk skip intro.
Ilmu tidak bisa diunduh seperti filter.
Karakter tidak bisa dibuat menggunakan template.
Dan iman tidak tumbuh hanya karena menekan tombol "like" pada video ceramah.
Teknologi bukan musuh pendidikan. Tantangan terbesar justru bagaimana manusia tetap menjadi pengendali teknologi, bukan menjadi produk dari algoritma yang terus-menerus mengarahkan perhatian dan waktunya.
Karena itulah saya selalu melihat musim back to school sebagai kesempatan yang penting.
Bukan sekadar kembali memakai seragam.
Bukan sekadar kembali bertemu teman.
Tetapi kesempatan untuk melatih kembali kemampuan yang mulai langka di zaman sekarang: fokus.
Kemampuan duduk dan mendengarkan.
Kemampuan membaca sampai selesai.
Kemampuan berpikir sebelum berkomentar.
Kemampuan belajar sesuatu yang hasilnya tidak langsung terlihat hari itu juga.
Saya tahu ini tidak mudah.
Bersaing dengan TikTok bagi seorang guru ibarat warung angkringan bersaing dengan pusat perbelanjaan yang memiliki pendingin ruangan, musik, dan diskon setiap minggu.
Tetapi sekolah memang tidak pernah bertugas menjadi tempat paling menghibur.
Sekolah bertugas menjadi tempat yang membantu seseorang bertumbuh.
Meski kadang proses bertumbuh itu terasa membosankan.
Maka kepada para siswa yang kembali ke sekolah tahun ini, saya hanya ingin menyampaikan satu pesan sederhana.
Silakan tetap bermain TikTok.
Silakan tetap mengikuti tren.
Silakan tetap membuat konten yang kreatif.
Tetapi jangan sampai kalian mengetahui seluruh isi FYP dan lupa isi cita-cita kalian sendiri.
Karena pada akhirnya, yang menentukan masa depan bukan algoritma.
Melainkan keputusan-keputusan kecil yang kalian ambil setiap hari.
Dan percayalah, tidak ada tombol "scroll" dalam ujian kehidupan.
Yang ada hanya pilihan untuk belajar atau menyesal kemudian.
tetapi lupa isi cita-cita kalian sendiri.
Post a Comment
2. Komentar sensitif akan dihapus
3. Gunakan bahasa yang sopan dan saling menghargai perbedaan pendapat dan sudut pandang
4. Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE