Kaya Itu Mudah, Tapi Amanah Itu Susah

Table of Contents

Ngobrol Soal Bisnis Ala Muhammadiyah

Pak, kalau bohong dikit tapi untung banyak gimana?”

Satu kelas langsung ramai.

Ada yang tidak ketawa.

Ada yang diam nyeletuk:

Namanya juga bisnis, Pak.”

Yang lain menimpali:

Yang penting cuan dulu.”

Saya diam sebentar.

Lalu saya tanya lagi:

Kalau kalian jadi pembeli terus ditipu gimana?”

Kelas mendadak sunyi.

Begitulah hidup.

Kita sering ingin untung besar, tapi tidak siap menerima akibat ketika kebohongan itu berbalik kepada diri sendiri.

Padahal, hari ini dunia sedang dipenuhi orang-orang yang ingin cepat kaya. Konten motivasi berseliweran di TikTok. Ada yang jual mimpi jadi sultan sebelum umur 25. Ada yang pamer mobil hasil trading. Ada yang bilang sukses itu soal angka rekening.

Sementara itu, kejujuran perlahan dianggap kuno.

  • Yang penting viral.
  • Yang penting laku.
  • Yang penting ramai.

Lalu Muhammadiyah datang dengan cara pandang yang berbeda.

Muhammadiyah tidak melihat bisnis hanya soal uang.

Bisnis juga soal akidah, akhlak, ibadah, dan manfaat sosial.

Karena ternyata, mencari uang itu mudah dibanding menjaga amanah.

Bisnis Itu Bukan Sekadar Dagang

Kadang kita berpikir bisnis itu cuma jual beli?

Padahal Muhammadiyah memandang bisnis lebih luas dari itu. Bisnis adalah bagian dari kehidupan manusia. Cara kita memperlakukan orang lain. Cara kita menjaga kepercayaan. Cara kita menggunakan harta.

KH Ahmad Dahlan sejak dulu sudah mengingatkan bahwa hidup tidak cukup hanya pintar mencari keuntungan. Ada nilai yang harus dijaga.

  • Ada akidah.
  • Ada akhlak.
  • Ada ibadah.
  • Ada muamalah duniawiyah.

Kalau diterjemahkan dengan bahasa anak muda sekarang mungkin begini:

Silakan sukses, tapi jangan kehilangan hati nurani.”

Akidah: Jangan Sampai Uang Mengalahkan Tuhan

Hari ini banyak orang rela melakukan apa saja demi uang.

Menipu?

Boleh.

Menjatuhkan orang lain?

Gas.

Memfitnah kompetitor?

Lanjut.

Yang penting profit. Ko ada orang kaya begitu?

Padahal Muhammadiyah mengajarkan bahwa bisnis harus berdiri di atas akidah. Artinya, usaha yang dilakukan tetap harus sadar bahwa ada Allah yang mengawasi.

  • Karena tidak semua yang menghasilkan uang itu halal.
  • Tidak semua yang viral itu benar.

Maka muncul konsep sociopreneurship.

Bahasa sederhananya:

Punya usaha, tapi tetap peduli manusia.”

Bukan hanya kaya sendiri.

Tapi juga masa bodo membantu orang lain hidup lebih baik.

Akhlak: Modal Termahal Itu Kepercayaan

Coba bayangkan ada dua toko online.

  • Yang satu ramai pembeli karena jujur.
  • Yang satu ramai karena editan fotonya bagus.

Kira-kira mana yang bertahan lama?

Bisnis Muhammadiyah menekankan akhlak. Amanah. Jujur. Tidak curang.

Karena pelanggan mungkin bisa dibohongi sekali.

Tapi tidak selamanya.

Lucunya, banyak orang ingin usahanya dipercaya, tapi dirinya sendiri suka mengingkari janji.

Padahal dalam dunia bisnis:

reputasi lebih mahal daripada promosi.

Ibadah: Ternyata Cari Uang Juga Bisa Jadi Pahala

Ini bagian yang sering dilupakan.

Banyak orang memisahkan agama dengan pekerjaan.

  • Kalau di masjid ingat Allah.
  • Kalau jualan lupa Allah.

Padahal Muhammadiyah mengajarkan bahwa bisnis juga bisa menjadi ibadah.

  • Asal:
  • jujur,
  • halal,
  • tidak menzalimi,
  • dan dilakukan dengan niat baik.

Maka seorang pedagang yang amanah sebenarnya sedang berdakwah lewat perilakunya.

  • Tanpa ceramah panjang.
  • Tanpa suara keras.

Karena kejujuran itu sendiri sudah menjadi dakwah.

Mandiri Itu Keren

Hari ini banyak orang ingin hasil besar dengan usaha kecil.

  • Maunya sukses instan.
  • Kalau bisa viral semalam.
  • Kalau bisa kaya tanpa proses.

Padahal karakter bisnis Muhammadiyah salah satunya adalah mandiri.

Mandiri artinya mau bergerak. Mau belajar. Mau mencoba. Tidak gengsi memulai dari bawah.

Rasulullah juga berdagang.

Bukan karena beliau tidak mulia.

Justru karena bekerja dan berusaha adalah bagian dari kemuliaan.

Maka sebenarnya tidak ada yang memalukan dari jualan kecil-kecilan. Yang memalukan adalah malas tetapi banyak alasan.

Berkelanjutan: Jangan Cepat Kaya Lalu Cepat Hilang

  • Ada usaha yang viral seminggu lalu hilang.
  • Ada konten yang ramai sehari lalu dilupakan.
  • Ada orang kaya mendadak lalu bangkrut mendadak.

Kenapa?

Karena banyak orang hanya berpikir pendek.

Muhammadiyah mengajarkan bisnis yang berkelanjutan. Tidak hanya memikirkan keuntungan hari ini, tapi manfaat jangka panjang.

Karena bisnis yang baik bukan cuma menghasilkan uang.

  • Tapi juga menghasilkan kepercayaan.
  • Dan kepercayaan dibangun lama sekali.

Jadi, Apa Gunanya Semua Ini?

Mungkin ada yang bertanya:

Emang kalau jujur pasti kaya?”

Belum tentu.

Tapi hidup bukan cuma soal cepat kaya.

Muhammadiyah ingin melahirkan manusia yang:

  • sukses,
  • bermanfaat,
  • berakhlak,
  • dan tetap punya hati.

Karena percuma punya banyak uang kalau hidup penuh tipu daya.

Dan percuma terlihat sukses kalau kehilangan keberkahan.

Di akhir pelajaran saya kembali bertanya kepada siswa:

Kalau suatu hari kalian punya usaha sendiri, kalian mau dikenal sebagai orang kaya atau orang amanah?”

Kelas kembali diam.

Kadang pertanyaan sederhana memang lebih sulit dijawab daripada soal pilihan ganda.

Sudut Pandang
Sudut Pandang Menyajikan renungan, inspirasi, dan pandangan tentang Islam, pendidikan, serta makna hidup dari sisi iman dan ilmu. Temukan gagasan segar yang mencerahkan hati dan pikiran.

Post a Comment