Memakmurkan Masjid
Table of Contents
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wash-shalatu wassalamu 'ala asrafil anbiya'i wal mursalin, wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in. Amma ba'du.Yang kami hormati para alim ulama, tokoh masyarakat, bapak-bapak, ibu-ibu yang baik hati, dan adik-adik remaja yang kami cintai karena Allah...
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita bisa berkumpul di tempat yang mulia ini.
Saya lihat bapak-bapak di sini ada yang sudah semangat dari tadi, ada yang masih ngantuk... Tenang, Pak. Nanti kalau saya sudah mulai cerita yang seru, dijamin mata Bapak terbuka sendiri. Kalau tetap ngantuk, berarti itu tanda butuh tidur siang — itu sunah Nabi juga kok!
Hadirin yang dirahmati Allah, malam hari ini — atau hari ini — izinkanlah saya menyampaikan tema sangat penting bagi kehidupan kita sebagai umat Islam yakni tentang bagaimana kita MEMAKMURKAN MASJID.
Mengapa Masjid Itu Istimewa?
Hadirin yang dimuliakan Allah, sebelum kita bicara 'cara memakmurkan masjid', kita perlu tahu dulu — sebenarnya apa sih keistimewaan masjid itu?Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 18:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ
"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah." (QS. At-Taubah: 18)
MasyaAllah! Coba perhatikan ayat ini. Allah tidak bilang 'yang memakmurkan masjid adalah orang kaya, atau orang berilmu tinggi, atau orang berpangkat'. Tapi Allah bilang: yang memakmurkan masjid adalah ORANG YANG BERIMAN. Artinya, ukurannya bukan harta, bukan jabatan — tapi IMAN.
Jadi kalau Bapak-Ibu masih ragu mau aktif di masjid karena merasa belum pintar ngaji, belum hafal banyak ayat... Jangan khawatir! Yang penting imannya dulu. Nanti ilmunya menyusul. Daripada pura-pura pintar tapi tidak pernah ke masjid — itu lebih bahaya!
Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
أَحَبُّ الْبِقَاعِ إِلَى اللَّهِ الْمَسَاجِدُ وَأَبْغَضُ الْبِقَاعِ إِلَى اللَّهِ الْأَسْوَاقُ
Nah, hadis ini menarik sekali. Masjid paling dicintai Allah, sedangkan pasar paling dibenci Allah. Bukan berarti kita tidak boleh ke pasar ya — kita perlu ke pasar untuk cari nafkah. Tapi artinya adalah: semangat kita ke masjid harus LEBIH BESAR dari semangat kita ke pasar!
Coba jujur, Bapak-Ibu... Kalau ada diskon besar di supermarket, jam 5 pagi sudah antri. Tapi kalau adzan Subuh, masih tarik selimut. Nah, itu yang perlu kita evaluasi bersama. Semangat belanja lebih besar dari semangat shalat — ini yang disebut 'terbalik'.
Apa Artinya Memakmurkan Masjid?
Banyak orang berpikir memakmurkan masjid itu artinya cuma membangun gedungnya yang megah, membeli karpet yang mewah, memasang AC yang sejuk. Itu bagus, tapi bukan itu yang utama!Memakmurkan masjid artinya ada TIGA hal:
Pertama, IMAROH — yaitu memakmurkan secara fisik: membangun, merawat, membersihkan, dan mempercantik masjid agar nyaman digunakan ibadah.
Kedua, RI'AYAH — yaitu memakmurkan secara ibadah: mengisinya dengan shalat berjamaah, tilawah Al-Qur'an, dzikir, kajian ilmu, dan berbagai amal kebaikan.
Ketiga, IDAROH — yaitu memakmurkan secara manajemen: mengelola masjid dengan baik, terorganisir, memiliki program yang bermanfaat bagi masyarakat.
Jadi masjid yang makmur itu bukan hanya yang bangunannya bagus, tapi juga jamaahnya ramai, kegiatannya bermanfaat, dan pengurusnya tidak berantem. Kalau pengurusnya berantem, masjidnya juga tidak akan makmur — malah jamaah yang bingung mau ikut siapa!
Keutamaan Orang yang Memakmurkan Masjid
Hadirin, mungkin ada yang bertanya: apa sih yang kita dapatkan kalau kita aktif memakmurkan masjid? Jawabannya: BANYAK SEKALI! Mari kita simak beberapa hadis berikut:Pertama, tentang keutamaan shalat berjamaah di masjid:
صَلاةُ الجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاةَ الفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
SubhanAllah! Bayangkan, kalau shalat sendirian nilainya 1, maka shalat berjamaah nilainya 27! Ini seperti investasi yang keuntungannya 2.700 persen. Tidak ada investasi dunia yang bisa menandingi ini!
Bapak-bapak yang suka main saham... investasi terbaik bukan di bursa efek, tapi di shaf pertama masjid! Dijamin tidak rugi, tidak ada inflasi, tidak ada risiko bangkrut!
Kedua, tentang keutamaan seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ ... وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ
Pada hari kiamat nanti, matahari akan didekatkan sedekat satu mil dari kepala manusia. Panasnya luar biasa, keringat bercucuran. Di saat seperti itu, ada 7 golongan yang mendapat naungan Allah. Salah satunya adalah orang yang HATINYA TERPAUT DENGAN MASJID.
'Hati terpaut dengan masjid' artinya: ketika keluar dari masjid, sudah rindu untuk kembali lagi. Seperti orang yang kangen rumah — selalu ingin pulang. Nah, masjid seharusnya terasa seperti 'rumah kedua' bagi kita.
D. Cara Praktis Memakmurkan Masjid
Baik, sekarang kita bicara PRAKTIK. Apa yang bisa kita lakukan untuk memakmurkan masjid? Mari kita bahas sesuai peran masing-masing:
UNTUK BAPAK-BAPAK: Yang paling utama adalah SHALAT BERJAMAAH LIMA WAKTU di masjid. Jangan cari alasan untuk tidak ke masjid. Hujan rintik-rintik itu bukan alasan. Ngantuk itu bukan alasan. Kalau ada pertandingan bola, bapak-bapak bisa nonton sampai jam 2 pagi — tapi untuk shalat Subuh, merasa berat. Ini yang perlu kita perbaiki bersama.
UNTUK IBU-IBU: Dukung suami dan anak-anak untuk aktif ke masjid. Jangan ada ibu yang bilang 'Nak, nggak usah ke masjid dulu, makan dulu'. Karena shalat itu kewajibannya SEBELUM makan, bukan sesudah. Dan untuk ibu-ibu, aktifkan kegiatan di masjid: pengajian, TPQ, arisan yang digabung dengan tausiyah — itu semua bagian dari memakmurkan masjid.
Ada ibu yang suka arisan... Kalau arisannya di masjid dan diselingi tausiyah singkat, itu pahalanya berlipat ganda! Arisan dapat, ilmu agama dapat, silaturahmi dapat. Kalau arisannya di rumah dan isinya gosip semua... wah, itu minusnya yang dapat!
UNTUK REMAJA: Jadilah bagian dari remaja masjid! Aktif dalam kegiatan RISMA atau Karang Taruna Masjid. Jangan malu pergi ke masjid — itu keren! Justru yang aneh itu kalau muda-muda tapi malas ke masjid. Masjid bukan cuma untuk kakek-nenek. Masjid adalah untuk semua generasi.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
Tidak harus membangun masjid dari nol. Berkontribusi dalam pembangunan, renovasi, atau pengadaan fasilitas masjid — itu semua termasuk. Bahkan infaq seikhlasnya untuk masjid pun sudah termasuk. MasyaAllah, betapa murahnya Allah!
Jadi kalau Bapak-Ibu bingung mau investasi akhirat yang mana, bantu masjid dulu. Nanti dibuatkan rumah di surga — gratis! Tidak perlu KPR, tidak perlu uang muka, tidak ada bunga!
Masjid sebagai Pusat Peradaban
Hadirin, di zaman Rasulullah SAW, masjid bukan hanya tempat shalat. Masjid adalah PUSAT PERADABAN ISLAM. Di masjid, Rasulullah mengajarkan ilmu. Di masjid, dibahas masalah sosial masyarakat. Di masjid, dilatih strategi perang. Di masjid, diselesaikan persengketaan. Bahkan para sahabat yang tidak punya rumah tinggal di serambi masjid — mereka disebut Ahlus Shuffah.Artinya, masjid yang makmur adalah masjid yang HIDUP dan bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya. Bukan sekadar dibuka waktu shalat, lalu ditutup kembali. Masjid harus punya program: kelas mengaji untuk anak-anak, kajian rutin untuk dewasa, pemberdayaan ekonomi untuk yang membutuhkan, dan kegiatan sosial yang menyentuh masyarakat.
Mari kita jadikan masjid kita sebagai masjid yang hidup, yang ramai, yang dirindukan oleh jamaahnya, dan yang membawa keberkahan bagi lingkungan sekitarnya. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Post a Comment
2. Komentar sensitif akan dihapus
3. Gunakan bahasa yang sopan dan saling menghargai perbedaan pendapat dan sudut pandang
4. Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE