Lebaran di Tanah Jawa: Antara Syariat dan Tradisi

Table of Contents

Idul Fitri bukan sekadar hari raya. Di Pulau Jawa, ia adalah pertemuan dua semesta — Islam yang datang dari laut dan budaya Jawa yang telah berakar ribuan tahun.

Di sebuah dusun kecil di Jawa Tengah, sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri, beduk masjid dipukul saat fajar. Warga bergerak berbondong-bondong menuju masjid dan musala, masing-masing membawa ketupat dan lepet lengkap dengan lauk-pauknya. Ritual itu bukan shalat Id — itu Kupatan, atau Syawalan. Usai membaca tahlil dan doa, ketupat dan lepet dimakan bersama-sama, seperti yang berlangsung di Desa Sendang, Kecamatan Kragan, Rembang, pada 7 April 2025 lalu. 

Itulah Jawa. Hari rayanya tidak tunggal, tidak berakhir di tanggal satu Syawal. Ia merupakan sebuah ekosistem perayaan yang berlapis, yang masing-masing lapisannya menyimpan filsafat tersendiri.

Fitri: Kembali ke Asal

Kata "Idul Fitri" sering diterjemahkan sebagai "kembali suci" atau "kembali ke fitrah." Namun makna itu, bagi masyarakat Jawa, tidak berhenti sebagai kalimat abstrak di atas mimbar.

Bagi komunitas santri di pesantren, Idul Fitri bukan sekadar hari raya yang ditandai dengan shalat Id dan tradisi saling bermaafkan. Lebih dari itu, ia merupakan titik kulminasi dari perjalanan spiritual selama bulan Ramadhan — sebuah momen evaluasi diri atas sejauh mana seseorang telah menjalani ibadah dengan sepenuh hati.

Makna itu meresap ke dalam cara orang Jawa berbicara saat lebaran. Dalam budaya Jawa, ucapan Idul Fitri bukan sekadar menyampaikan selamat, melainkan juga menunjukkan rasa hormat atau ngajeni, dan mempererat tali silaturahmi, terutama kepada orang tua atau kerabat yang lebih tua. Pilihan kata pun bukan perkara sederhana: bahasa Krama Inggil, tingkatan bahasa Jawa paling halus, adalah keharusan ketika berbicara kepada orang yang dituakan.

Kalimat seperti "Mugi kita sedaya wangsul dados fitri" — "Semoga kita semua kembali menjadi suci" — bukan sekadar basa-basi. Ia adalah doa yang dituturkan dengan kesadaran bahwa Lebaran adalah momen pemulihan, bukan sekadar liburan.

Sungkeman: Menunduk untuk Meninggikan

Dari sekian tradisi Jawa saat Idul Fitri, sungkeman adalah yang paling menggetarkan. Anak-anak — berapapun usianya — berlutut di hadapan orang tua, mencium tangan, memohon ampun atas segala kesalahan yang telah diperbuat.

Dalam budaya Jawa, tradisi sungkeman bisa diartikan sebagai bentuk saling memaafkan antara anak-anak dan orang tuanya. Anak-anak mengucapkan permintaan maaf kepada orang tua menggunakan bahasa Jawa Krama atau Jawa halus, sebagai bentuk rasa hormat dan sikap sopan santun terhadap yang lebih tua.

Bagi masyarakat Jawa, ketupat memiliki makna Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku Lepat berarti mengakui semua kesalahan — tradisi sungkeman adalah implementasi nyata dari pengakuan itu. Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, dan memohon keikhlasan dari orang lain.

Dalam pandangan penulis, sungkeman adalah salah satu dari sedikit ritual yang berhasil menjaga "vertikal" hubungan manusia — menempatkan yang muda di bawah, bukan karena rendah derajatnya, melainkan karena menghormati mereka yang telah mendahului. Di tengah era yang semakin mendatar dan egaliter ini, sungkeman adalah tindakan subversif yang indah.

Mudik: Perjalanan Pulang ke Diri Sendiri

Kata mudik dalam istilah Jawa merupakan singkatan dari mulih dilik — pulang sebentar. Ini adalah momen para perantau kembali ke kampung halaman, mengambil libur beberapa hari dari pekerjaan di kota.

Namun jauh melampaui definisi kamus, mudik adalah ritual sosial-religius yang paling masif di dunia. Jutaan orang bergerak dalam waktu bersamaan, memadati jalan tol, stasiun, pelabuhan, dan bandara — semua menuju satu arah: rumah.

Tradisi mudik merupakan perpaduan harmonis antara nilai agama, budaya, dan kemanusiaan. Ia tidak hanya menghadirkan kegembiraan berkumpul bersama keluarga, tetapi juga memperkuat dimensi spiritual melalui silaturahmi, ziarah kubur, sedekah, dan niat ibadah dalam perjalanan. Mudik dapat dipandang sebagai ritual sosial-religius yang memiliki makna mendalam dalam membangun harmoni keluarga dan solidaritas masyarakat. Demikian menurut kajian dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Mudik bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan menuju rumah hati, tempat berkumpul bersama keluarga, dan merayakan kebahagiaan bersama setelah sebulan penuh berpuasa.

Ziarah Kubur: Menengok Mereka yang Mendahului

Salah satu tradisi yang paling kuat di Jawa — namun sering luput dari sorotan — adalah ziarah kubur. Nyadran merupakan tradisi ziarah kubur yang kuat di Pulau Jawa, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tradisi ini biasanya berlangsung menjelang atau setelah Lebaran, dengan unsur budaya lokal yang kental: selain berdoa, masyarakat membawa makanan dan berkumpul bersama di area makam.

Bagi orang Jawa, hubungan dengan leluhur tidak putus oleh kematian. Ziarah adalah cara menyambung benang yang tak kasat mata itu.

Proses akulturasi antara Islam dan budaya lokal telah menciptakan model ziarah kubur yang khas Nusantara — elemen budaya seperti menabur bunga dan pembacaan tahlil berpadu harmonis dengan tuntunan syariat Islam. Tradisi ini kemudian melekat kuat dengan momentum Idul Fitri, yang dipandang sebagai saat yang tepat untuk bersilaturahmi, baik dengan yang hidup maupun yang telah wafat.

Dari sisi fikih, hal ini bukan perkara kontroversial. Dalam Al-Mausu'atul Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, dinyatakan bahwa dianjurkan melakukan ziarah pada Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha ke makam keluarga, sahabat, dan lainnya.

Kupatan: Lebaran Belum Usai

Tujuh hari setelah Idul Fitri, lebaran di Jawa belum betul-betul berakhir. Hadir tradisi Kupatan atau Syawalan yang punya kedalaman filosofi tersendiri.

Syawalan atau Kupatan adalah selametan yang dilakukan pada hari ketujuh Bulan Syawal. Disebut Syawalan karena pelaksanaannya pada Bulan Syawal, dan hanya ada setelah lebaran Idul Fitri. Disebut Kupatan karena kebanyakan orang saat Syawalan membuat ketupat atau kupat.

Ketupat sendiri adalah benda yang sarat makna. Kata "Kupatan" adalah singkatan dari bahasa Jawa Ngaku Lepat — mengakui kesalahan. Ketupat dibungkus dengan janur kuning, yang dalam bahasa Jawa berarti Jatining Nur atau Cahaya Hati. Bentuk ketupat yang segi empat terinspirasi dari kiblat, bermakna kembali kepada Tuhan. Anyaman ketupat yang rumit melambangkan kesalahan-kesalahan manusia yang banyak.

Dan jangan lupakan lepet — penganan berbahan ketan yang kerap menemani ketupat. Lepet memiliki filosofi Silep Kang Rapet, yang artinya dikubur rapat-rapat. Maksudnya, kesalahan-kesalahan yang telah dimaafkan hendaknya dikubur rapat dan tidak diungkit kembali, agar persaudaraan tetap terjaga.

Grebeg Syawal: Ketika Keraton Bersedekah

Di Yogyakarta, ada tradisi yang tidak ditemukan di tempat lain: Grebeg Syawal. Setiap 1 Syawal, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar prosesi arak-arakan yang telah berlangsung berabad-abad.

Asal-usul perayaan Grebeg di Keraton Yogyakarta diperkirakan berasal dari tradisi Jawa kuno yang disebut Rajawedha, di mana raja akan memberikan sedekah demi terwujudnya kedamaian dan kemakmuran. Grebeg Syawal pertama kali diadakan oleh Sultan Hamengkubuwono I. Dalam setahun, Keraton Yogyakarta menggelar tiga upacara Grebeg: Grebeg Syawal, Grebeg Besar, dan Grebeg Mulud.

Pada Idul Fitri 1446 H yang lalu, 31 Maret 2025, tradisi ini kembali berlangsung. Gunungan-gunungan berisi hasil bumi diarak oleh prajurit keraton atau bregada menuju beberapa titik: Masjid Gede Kauman, Kantor Pemda DIY, dan Pura Pakualaman. Ribuan warga dan wisatawan menyaksikan prosesi itu — sebagian dengan kamera di tangan, sebagian dengan mata yang berkaca.

Ubarampe yang dibagikan berupa rengginang dan tlapukan bintang dengan lima warna yang masing-masing bermakna: hitam melambangkan kewibawaan dan keteguhan, putih kesucian, merah keberanian, hijau kesuburan dan kemakmuran, serta kuning kemuliaan. Pemilihan warna itu erat kaitannya dengan kearifan Jawa tentang mata angin (kiblat papat limo pancer) dan pancawara atau perhitungan hari pasaran.

Di balik kemegahan prosesi, Grebeg Syawal mengandung empat nilai luhur: spiritual sebagai ungkapan syukur dan doa, sosial sebagai gambaran hubungan erat antara raja dan rakyat melalui simbol sedekah gunungan, ekologis sebagai pengingat akan pentingnya menjaga alam, dan budaya sebagai wujud harmoni antara Islam dan tradisi Jawa.

Halal Bihalal: Rekonsiliasi yang Menjadi Nasional

Dari Jawa, satu tradisi lebaran bahkan berhasil melampaui batas pulau dan menjadi milik bangsa: halal bihalal.

Istilah halalbihalal mulanya diperkenalkan oleh seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Hasbullah, kepada Presiden Soekarno pada 1948. Saat itu, Bung Karno ingin menyatukan tokoh-tokoh politik yang berselisih melalui silaturahmi di Istana Negara. Dari sana, tradisi itu menyebar ke seluruh nusantara.

Halal bihalal bukan sekadar jabat tangan massal. Ia adalah arsitektur sosial — sebuah forum rekonsiliasi yang dikemas dalam suasana lebaran. Bahwa lahirnya tradisi ini dari situasi politik yang tegang justru menunjukkan betapa Idul Fitri, di tangan orang Jawa, selalu bermakna lebih dari sekadar ritual keagamaan.

Penutup: Ketika Islam dan Jawa Berdamai

Tradisi-tradisi di atas menunjukkan satu hal yang konsisten: orang Jawa tidak pernah membenturkan Islam dengan budayanya. Mereka merajutnya. Janur menjadi cahaya hati. Ketupat menjadi pengakuan dosa. Gunungan menjadi sedekah sultan. Sungkeman menjadi tazkiyatun nafs — pembersihan jiwa.

Tentu, ada suara-suara yang mempertanyakan apakah semua ini masih "murni" secara keislaman. Itu pertanyaan sah yang terus diperdebatkan oleh para ulama hingga hari ini. Namun yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa tradisi-tradisi ini telah menjaga jutaan orang tetap terhubung — dengan Tuhan, dengan leluhur, dengan sesama, dan dengan diri mereka sendiri.

Di Jawa, Idul Fitri bukan hanya tentang kemenangan melawan hawa nafsu. Ia adalah tentang bagaimana sebuah peradaban belajar merayakan kepulangan — pulang ke kampung, pulang ke orang tua, dan pulang ke fitrah kemanusiaan yang paling mendasar.

Artikel ini ditulis berdasarkan sumber-sumber yang dapat diverifikasi, termasuk Kompas.com, Liputan6.com, Beritasatu.com, Tempo.co, laman resmi Dinas Kebudayaan DIY, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Melintas.id, dan laman desa Sendang Rembang.

Sudut Pandang
Sudut Pandang Menyajikan renungan, inspirasi, dan pandangan tentang Islam, pendidikan, serta makna hidup dari sisi iman dan ilmu. Temukan gagasan segar yang mencerahkan hati dan pikiran.

Post a Comment