Kenapa Amerika Rela Mati-matian Bela Isriwil?
| Benjamin Netanyahu : Perdana Menteri Israel |
Sebuah kolom tentang dunia yang nggak pernah belajar dari sejarahnya sendiri
Mari kita mulai dari yang paling mendasar dulu: Isriwil itu siapa, sebenernya?
Bukan nama warung makan di pinggir jalan Yogyakarta, meskipun sama-sama bikin orang penasaran dan sering bikin ribut. Isriwil — yang dalam peta resmi dunia ditulis dengan nama yang lebih familiar tapi kita pakai versi eufemisme dulu supaya kolom ini tetap bisa dibaca tanpa dahi berkerut — adalah sebuah negara yang berdiri di atas tanah yang, tergantung kamu tanya siapa, adalah "tanah yang dijanjikan Tuhan" atau "tanah yang diambil paksa sejak 1948."
Dua versi yang sama-sama dipegang erat-erat oleh masing-masing pihak. Dan seperti biasa dalam urusan manusia yang melibatkan Tuhan dan tanah, nggak ada yang mau ngalah.
Asal-Usul Isriwil: Singkat, Padat, Tapi Bikin Pusing
Setelah Holocaust yang mengerikan pada Perang Dunia II, komunitas Yahudi internasional — dengan dukungan kuat dari Inggris dan kemudian Amerika — menjadikan Palestina sebagai tanah air baru. Sebelum Revolusi Islam 1979, Iran di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi bahkan menjadi sekutu strategis Washington dan memiliki hubungan tidak resmi namun erat dengan Isriwil. Ya, baca itu baik-baik — Iran dan Isriwil dulu musuhan sahabatan. Dunia ini memang penuh kejutan.
Tapi itu cerita lama. Yang penting sekarang: Isriwil adalah negara dengan militer terkuat di Timur Tengah, punya senjata nuklir (yang mereka nggak pernah resmi ngakui), dan punya satu sobat karib yang selalu siap pasang badan: Amerika Serikat.
Kenapa Amerika Mati-Matian Bela Isriwil?
Pertanyaan ini seperti nanya kenapa orang kaya selalu punya teman banyak. Jawabannya kompleks, tapi bisa diringkas dalam beberapa lapisan:
Lapisan pertama: Geopolitik dan energi.
Timur Tengah adalah urat nadi energi dunia. Isriwil adalah "anjing penjaga" Amerika di kawasan itu — negara kecil yang punya kapasitas militer besar, loyal, dan strategis. Kalau Timur Tengah adalah papan catur, Isriwil adalah benteng yang nggak boleh jatuh.
Lapisan kedua: Lobi politik yang luar biasa kuat.
Di Washington, ada yang namanya AIPAC — lobi pro-Isriwil yang pengaruhnya di Kongres AS sudah jadi bahan studi ilmu politik lintas dekade. Bukan konspirasi, ini fakta terbuka yang bisa dicek di laporan keuangan kampanye para senator Amerika.
Lapisan ketiga: Sentimen keagamaan dan moral.
Bagi segmen besar pemilih Kristen Evangelis Amerika — basis utama Trump — mendukung Isriwil adalah kewajiban teologis. Ada keyakinan bahwa berdirinya Isriwil adalah bagian dari skenario akhir zaman. Jadi mendukung Isriwil bukan soal politik semata, tapi soal keimanan.
Tiga lapisan ini menyatu jadi satu paket yang susah dibongkar, bahkan oleh presiden Amerika sendiri.
Lalu Tiba-Tiba, 28 Februari 2026
Pada 28 Februari 2026, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan terhadap berbagai target di Iran dalam operasi yang diberi nama sandi Roaring Lion oleh Isriwil dan Operation Epic Fury oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Epic Fury, Nama operasi militer kok kayak judul film action B-grade yang tayang tengah malam di stasiun TV lokal. Tapi dampaknya nyata dan mematikan.
Presiden Donald Trump mengumumkan serangan itu lewat video di Truth Social, menyerukan anggota Garda Revolusi Islam untuk meletakkan senjata dengan imbalan kekebalan hukum, dan memperingatkan bahwa penolakan berarti "kematian yang pasti."
Bayangkan: pemimpin negara adidaya mengumumkan perang lewat media sosial miliknya sendiri. Kita sudah sejauh ini, ternyata.
Media pemerintah Iran dan sejumlah laporan internasional mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meninggal akibat serangan gabungan AS–Isriwil yang menghantam kompleksnya di Teheran.
Alasan Resmi vs. Alasan Sesungguhnya
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan: "Tujuan dari misi ini adalah memastikan mereka tidak memiliki senjata yang dapat mengancam kami dan sekutu kami di kawasan."
Tapi Rubio juga nggak menampik ada agenda lebih besar. Ia tidak menampik keinginan melihat tergulingnya rezim di Iran, seraya berkata bahwa Trump ingin rakyat Iran memanfaatkan momentum ini untuk bangkit dan menyingkirkan para pemimpin mereka.
Jadi kalau diringkas: alasan resminya adalah nuklir dan rudal. Alasan sesungguhnya? Ganti rezim. Versi halusnya: "membebaskan rakyat Iran." Versi jujurnya: bikin Iran punya pemerintahan yang lebih jinak terhadap Washington dan Tel Aviv.
Trump menuntut syarat yang lebih luas dalam negosiasi, mencakup pembongkaran permanen fasilitas nuklir Fordow dan Natanz, penghentian total program rudal balistik, serta penghentian dukungan kepada kelompok proksi regional seperti Hizbullah dan Hamas. Teheran menolak dengan alasan pelanggaran kedaulatan nasional.
Dan ketika diplomasi macet, senjata berbicara. Itu selalu cara kerjanya.
Rakyat Amerika? Mereka Juga Nggak Mau
Ini bagian yang sering dilupakan dalam narasi besar perang: rakyat Amerika sendiri nggak kompak soal ini.
Ribuan demonstran memadati jalanan kota-kota besar Amerika Serikat sejak 1 Maret 2026, menyuarakan penolakan keras terhadap keputusan Trump melancarkan operasi militer ke Iran.
Salah satu tokoh yang berbicara di Brooklyn menyatakan: "Membom kota-kota, membunuh warga sipil, membuka medan perang baru — rakyat Amerika tidak menginginkan ini. Rakyat Amerika menginginkan perdamaian."
Bahkan di Kongres, ada perdebatan serius. Senat AS akhirnya menolak resolusi war powers yang ingin membatasi kekuasaan Trump dalam perang ini, dengan suara 47-53. Ironisnya, satu-satunya senator Republik yang mendukung resolusi itu adalah Rand Paul.
Jadi demokrasi Amerika sedang dalam kondisi yang menarik: presiden pergi berperang, rakyatnya turun ke jalan, dan Kongres nggak cukup berani untuk menghentikannya.
Balasan Iran: Tidak Main-Main
Iran marah besar — dan mereka punya cara untuk mengekspresikannya.
Dalam serangan balasan, rudal Iran menghantam kawasan Tel Aviv di Isriwil, menyebabkan korban meninggal dan puluhan luka-luka di antara warga sipil. Serangan Iran juga menimbulkan korban di bandara dan fasilitas umum di negara Teluk seperti Uni Emirat Arab.
Sebuah rudal balistik Iran menghantam pangkalan militer AS di Al-Udeid, Qatar. Kementerian Pertahanan Qatar mengonfirmasi: sistem pertahanan udara berhasil mencegat salah satu rudal, sementara yang kedua mengenai pangkalan tersebut.
Dan Iran tidak berhenti di situ. Teheran juga menutup jalur strategis Selat Hormuz sebagai bagian dari responsnya — sebuah jalur yang dilewati 20 persen aliran energi global.
Penutupan Selat Hormuz itu bukan gertakan biasa. Itu menekan seluruh dunia sekaligus.
Mimpi Amerika: "Bebaskan Rakyat Iran"
Trump berulang kali menyerukan rakyat Iran untuk bangkit menggulingkan rezim. Konsepnya terdengar mulia. Tapi kenyataannya lebih rumit.
Trump dan Netanyahu menyerukan kepada rakyat Iran — sekitar 60% di antaranya berusia di bawah 30 tahun — untuk menggulingkan rezim setelah operasi AS–Isriwil melumpuhkannya. Namun aparatur negara Iran yang bersifat koersif tampaknya masih solid mendukung rezim. Tanpa munculnya keretakan serius di kalangan elite — terutama IRGC — rezim kemungkinan mampu bertahan melewati krisis.
Kematian Khamenei memang menjadi pukulan telak, tapi Iran kemungkinan masih mampu bertahan dan menyesuaikan diri. Ia disebut telah mengantisipasi kemungkinan ini dan menyiapkan garis suksesi.
Singkatnya: Amerika mengira membunuh satu pemimpin bisa meruntuhkan satu sistem. Tapi sistem itu sudah berjalan 47 tahun dan punya cadangan.
Reaksi Negara Tetangga: Ramai, tapi Nggak Ada yang Berani Beneran
China mengecam keras dan menyatakan kemarahannya, tapi melakukan sangat sedikit selain itu. Beijing memilih pragmatisme keras: Iran berada di bawah prioritas utamanya, termasuk stabilitas hubungan dengan AS menjelang pertemuan puncak Trump-Xi.
Rusia memberikan peringatan nuklir. Oman — yang tadinya jadi mediator negosiasi nuklir Iran-AS — menyatakan kekecewaan mendalam dan menyerukan AS untuk tidak tersedot lebih jauh. Pakistan mengecam. Indonesia melalui akademisi UGM menuntut pemerintah mengutuk agresi ini dan membawanya ke PBB.
IIS UGM bahkan mendesak Indonesia keluar dari Board of Peace, karena dua anggota BoP yaitu AS dan Isriwil justru menjadi agresor yang mengancam stabilitas kawasan.
Jadi, Ke Mana Arahnya?
Kedua belah pihak dalam konflik ini telah melanggar semua batasan yang ada sebelumnya. Mereka kini berada dalam peperangan terbuka yang dapat melanda seluruh kawasan. Panggung untuk perang berkepanjangan telah disiapkan — pertempuran bisa berlangsung berminggu-minggu, bukan sekadar hitungan hari.
Yang bikin frustrasi adalah: AS dan Iran tengah berada di tengah putaran perundingan nuklir yang dimediasi Oman ketika serangan terjadi. Mediator sempat mengklaim bahwa "perdamaian sudah dalam jangkauan."
Tapi Trump dan Netanyahu memilih bom daripada meja perundingan. Dan kini seisi Timur Tengah menanggung akibatnya.
Penutup: Tentang Atas Nama Kebaikan
Ada pola yang selalu berulang dalam sejarah: negara kuat menyerang negara lain atas nama kebebasan, demokrasi, atau kemanusiaan. Irak 2003. Libya 2011. Dan sekarang Iran 2026.
Hasilnya? Selalu sama: pemimpin lama jatuh, tapi kekacauan baru lahir. Rakyat yang katanya mau "dibebaskan" justru terjepit antara rezim lama yang runtuh dan ketidakpastian yang jauh lebih menakutkan.
Isriwil dapat apa? Keamanan sementara, musuh baru yang lebih marah.
Amerika dapat apa? Tagihan perang yang akan dibayar pakai pajak rakyat yang tadi demo di Times Square.
Iran dapat apa? Pemimpin yang tewas, kota yang rusak, dan — kemungkinan besar — semangat nasionalisme yang justru semakin menguat karena diserang dari luar.
Dan kita semua — yang nonton dari jauh — dapat apa?
Harga minyak yang naik. Setiap kenaikan satu dolar per barel berpotensi memperlebar defisit anggaran Indonesia hingga sekitar Rp6,8 triliun. Jika harga minyak benar-benar menyentuh USD 100, beban subsidi bisa melonjak drastis dan mengancam stabilitas pasokan LPG 3 kg.
Jadi pada akhirnya, perang antara Isriwil, Amerika, dan Iran itu terasa jauh — tapi ujungnya bisa terasa di kompor dapur kita masing-masing.
Selamat datang di abad ke-21, di mana perang diumumkan lewat media sosial dan dampaknya kamu rasakan saat masak nasi.
Kolom ini ditulis dari keresahan, bukan kebencian. Karena keresahan masih bisa diajak ngobrol, tapi kebencian cuma bisa diajak berteriak.
Post a Comment
2. Komentar sensitif akan dihapus
3. Gunakan bahasa yang sopan dan saling menghargai perbedaan pendapat dan sudut pandang
4. Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE