Ramadhan: Pintu Taubat yang Terbuka Lebar

Table of Contents

KHUTBAH PERTAMA

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Subhānahu wa Ta’ālā yang masih memberi kita umur, kesehatan, dan kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan. Bulan yang setiap tahunnya datang membawa rahmat, membawa ampunan, membawa kesempatan baru untuk memperbaiki diri. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallāhu ‘Alaihi Wasallam, kepada keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau, dan kepada kita semua yang berusaha mengikuti sunnahnya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ramadhan itu bukan sekadar bulan puasa. Bukan sekadar perubahan jadwal makan. Bukan sekadar bangun sahur dan menahan lapar sampai maghrib. Kalau Ramadhan hanya soal menahan lapar dan haus, orang yang diet pun bisa melakukannya. Tapi Ramadhan jauh lebih dalam dari itu.

Ramadhan adalah bulan pendidikan jiwa. Bulan evaluasi diri. Bulan di mana kita seakan-akan diberi kesempatan untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia. Biasanya hidup kita ini berjalan cepat sekali. Pagi bekerja, siang mengejar target, malam sibuk dengan urusan rumah atau layar handphone. Tiba-tiba Ramadhan datang dan berkata, “Pelan dulu. Duduk dulu. Lihat lagi hidupmu.”

Ramadhan adalah bulan kembalinya seorang hamba kepada Rabb-nya. Karena sering kali tanpa sadar, hati kita ini menjauh. Bukan karena kita benci kepada Allah, bukan. Tapi karena terlalu sibuk. Terlalu tenggelam dalam urusan dunia. Shalat masih dikerjakan, tapi mungkin tergesa-gesa. Doa masih dibaca, tapi tanpa rasa. Al-Qur’an masih ada di rumah, tapi jarang disentuh.

Lalu Ramadhan hadir seperti panggilan lembut: “Kembalilah.”

Ramadhan adalah bulan di mana pintu taubat dibuka selebar-lebarnya. Bahkan bagi mereka yang merasa dosanya sudah terlalu banyak. Bahkan bagi mereka yang mungkin sudah lama tidak menangis dalam doa. Bahkan bagi mereka yang mungkin merasa malu untuk mengangkat tangan karena merasa terlalu sering berbuat salah.

Kadang ada orang yang berkata dalam hatinya, “Saya ini sudah terlalu kotor untuk kembali.” Padahal justru Ramadhan datang untuk membersihkan. Ada yang merasa, “Nanti saja taubat kalau sudah tua.” Padahal tidak ada satu pun dari kita yang tahu apakah umur kita sampai tua atau tidak.

Ramadhan ini seperti Allah sedang memberi kita kesempatan ulang. Seperti lembaran baru yang dibuka. Seperti ujian yang boleh diperbaiki nilainya. Tinggal kita mau atau tidak.

Setelah suasana hati kita disadarkan seperti itu, barulah kita memahami firman Allah:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah (Muhammad), wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Perhatikan ayat ini, jamaah sekalian. Allah tidak memanggil “wahai orang-orang yang taat”. Allah tidak memanggil “wahai orang-orang yang rajin ibadah”. Tapi Allah memanggil, “wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri.” Artinya siapa? Kita. Yang sering lalai. Yang sering menunda taubat. Yang mungkin masih menyimpan dosa yang belum selesai.

Ramadhan hadir seperti jawaban dari ayat ini. Seakan-akan Allah berkata, “Datanglah. Kembalilah. Aku buka pintunya.”

Rasulullah Shallallāhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Bayangkan, jamaah sekalian. Dosa yang telah lalu. Kesalahan yang mungkin kita simpan bertahun-tahun. Kelalaian dalam shalat. Lisan yang pernah menyakiti. Hati yang pernah dengki. Semua itu Allah janjikan ampunan, asalkan kita datang dengan iman dan kesungguhan.

Kadang kita ini merasa tidak enak hati ketika mengecewakan manusia. Kita berusaha memperbaiki hubungan. Kita minta maaf. Kita kirim pesan. Tapi ketika hubungan kita dengan Allah renggang, sering kali kita santai saja. Ramadhan mengingatkan kita: jangan biasakan jauh dari Allah.

Ramadhan itu seperti musim hujan bagi tanah yang kering. Hati kita ini kadang kering. Terlalu sibuk dengan urusan dunia. Terlalu fokus pada pekerjaan, bisnis, target, media sosial, sampai lupa mengevaluasi diri. Lalu Ramadhan datang membawa suasana yang berbeda. Masjid lebih ramai. Tilawah lebih sering terdengar. Sedekah lebih mudah dilakukan. Air mata lebih gampang jatuh.

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar memanfaatkannya?

Taubat bukan hanya ucapan “astaghfirullah” di lisan. Taubat adalah keputusan. Keputusan untuk berhenti dari yang salah. Keputusan untuk memperbaiki shalat yang selama ini terburu-buru. Keputusan untuk meninggalkan kebiasaan buruk yang kita tahu tidak diridhai Allah. Keputusan untuk meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti.

Jangan sampai Ramadhan berlalu, tetapi kita masih menjadi pribadi yang sama. Jangan sampai kita hanya berubah jadwal makan, tapi tidak mengubah isi hati. Karena bisa jadi ini Ramadhan terakhir bagi kita. Tidak ada satu pun di antara kita yang punya jaminan akan bertemu Ramadhan tahun depan.

Maka selama pintu itu masih terbuka, masuklah. Selama kesempatan itu masih ada, ambillah. Jangan tunggu hati benar-benar keras, jangan tunggu usia benar-benar habis.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang masih memberi kita kesempatan untuk berdiri di hari Jumat yang mulia ini.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Di bulan Ramadhan ini, jangan tunda taubat. Jangan berkata, “Nanti saja kalau sudah tua.” Jangan berkata, “Nanti saja kalau sudah lebih siap.” Karena kesiapan itu sering kali tidak pernah datang kalau tidak dipaksa oleh kesadaran.

Allah Subhānahu wa Ta’ālā berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung." (QS. An-Nur: 31)

Perhatikan, yang diperintahkan taubat itu bukan hanya orang yang jauh dari agama. Yang diperintahkan taubat adalah orang beriman. Artinya selama kita masih hidup, selama itu pula kita butuh taubat.

Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai titik balik. Kalau selama ini shalat masih bolong, kita perbaiki. Kalau selama ini Al-Qur’an jarang dibuka, kita mulai membacanya. Kalau selama ini hati mudah marah, kita belajar menahannya. Sedikit demi sedikit, tapi nyata.

Semoga ketika Ramadhan berakhir, yang berubah bukan hanya kalendernya, tetapi juga diri kita.

Marilah kita berdoa kepada Allah semua agar kita diberikan kekuatan dan kesempatan untuk memperbaiki diri kita, dari dosa dan kesalahan kita, kita mohon ampun kepadanya, karena kita makhluk yang lemah butuh pertolongan dari Allah swt.

Innaloha wamalaikatahh yusolluna alannabi...

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هَذَا الرَّمَضَانِ مِنَ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُوْمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Sudut Pandang
Sudut Pandang Menyajikan renungan, inspirasi, dan pandangan tentang Islam, pendidikan, serta makna hidup dari sisi iman dan ilmu. Temukan gagasan segar yang mencerahkan hati dan pikiran.

Post a Comment