Ketika Ijazah Menjadi Beban: Mengurai Sesal Sarjana di Persimpangan Gaji dan Gairah
![]() |
| Infografis Data Jurusan |
Setiap tahun ajaran baru, ribuan mahasiswa memadati aula kampus, mata mereka berkilat penuh janji. Mereka memimpikan diri sebagai arsitek peradaban, dokter penyembuh, atau jurnalis yang mengungkap kebenaran. Pilihan jurusan adalah janji awal, sebuah komitmen pada cetak biru masa depan yang diyakini akan harmonis: kebahagiaan profesional sejalan dengan kemapanan finansial.
Namun, beberapa tahun kemudian, janji itu sering kali pecah, seperti kaca yang dilempar ke dinding kenyataan.
Hari wisuda tiba. Toga hitam membungkus tubuh, ijazah tersampir di tangan—selembar kertas berharga yang seharusnya menjadi paspor menuju kehidupan layak. Ironisnya, bagi banyak lulusan, ijazah itu justru terasa berat, bukan karena pencapaiannya, melainkan karena potensi penyesalan yang tersimpan di dalamnya. Penyesalan yang baru terasa enak pahit ketika saldo rekening tidak sepadan dengan ekspektasi tinggi yang mereka bangun di bangku kuliah.
Ini bukan sekadar keluh kesah pribadi, melainkan fenomena global yang tertangkap jelas dalam data. Jurnalisme naratif tidak hanya merekam cerita, tetapi juga angka-angka yang membentuk cerita itu.
Air Dingin bernama Kenyataan
Lazimnya, masyarakat memegang premis bahwa pendidikan tinggi adalah investasi terbaik. Semakin tinggi gelar, semakin cerah prospeknya. Namun, di era pasar kerja yang dinamis, digitalisasi yang masif, dan inflasi biaya hidup, rumus ini mulai menunjukkan retak.
Sebuah studi yang dilakukan oleh perusahaan bursa kerja asal AS, ZipRecruiter Inc., pada tahun 2022 terhadap 1.500 lulusan universitas yang sedang mencari pekerjaan, menyajikan potret suram tentang penyesalan sarjana. Hasilnya menunjukkan bahwa sejumlah besar lulusan, setelah menghadapi pasar kerja yang sebenarnya, berharap mereka bisa kembali ke masa lalu dan memilih jurusan yang berbeda.
Ekonom ZipRecruiter, Sinem Buber, menjelaskan inti dari kekecewaan ini: pergeseran prioritas dari gairah menjadi gaji.
"Selama kuliah, responden memang tertarik pada bidang yang dipilih. Mereka memilih jurusan berdasarkan minat murni. Namun ketika lulus, mereka dihadapkan pada kenyataan soal gaji pada pekerjaan terkait jurusan tersebut yang di luar ekspektasi," kata Buber.
Kutipan Buber, yang dikutip dari CNBC Internasional, sangat menusuk: "Saat kita lulus, kenyataan akan datang. Saat Anda hampir tidak bisa membayar tagihan Anda, gaji Anda mungkin menjadi lebih penting."
Inilah titik kritisnya: ketika idealisme bertemu dengan kebutuhan primer. Gairah dapat menghidupkan jiwa, tetapi gaji-lah yang membayar sewa, cicilan, dan, yang terpenting, martabat.
Jurusan yang Membuahkan Sesal: Ketika Ilmu Humaniora Kalah Tanding
Data ZipRecruiter merilis daftar lengkap jurusan yang paling banyak disesali. Daftar ini didominasi oleh bidang-bidang yang secara tradisional dianggap sebagai fondasi ilmu humaniora dan seni—bidang yang mengasah pemikiran kritis, empati, dan komunikasi, namun ironisnya, sering kali menghasilkan nilai ekonomi yang rendah di mata pasar.
Berikut adalah 10 jurusan dengan tingkat penyesalan tertinggi:
- Jurnalisme (87%)
- Sosiologi (72%)
- Seni (72%)
- Komunikasi (64%)
- Pendidikan (61%)
- Manajemen Marketing + Riset (60%)
- Pendamping Medis (56%)
- Ilmu Politik dan Pemerintahan (56%)
- Biologi (52%)
- Sastra Inggris (52%)
Analisis Mendalam Jurusan Paling Menyesal
1. Jurnalisme (87%): Pembunuh Idealism
Di puncak daftar, Jurnalisme mencatat angka penyesalan yang fenomenal. Angka 87% bukan hanya sekadar statistik, melainkan jeritan kolektif para idealis yang memilih profesi mulia ini.
Jurnalisme adalah salah satu industri yang paling terdampak oleh disrupsi digital. Model bisnis media tradisional ambruk, digantikan oleh model iklan digital yang masif, yang sayangnya, tidak sebanding dengan biaya operasional. Pekerjaan Jurnalisme seringkali menuntut jam kerja panjang, stres tinggi, dan risiko etika, namun imbalannya jauh di bawah ekspektasi.
Banyak lulusan jurnalistik akhirnya bekerja sebagai spesialis konten, copywriter, atau public relations—pekerjaan yang memanfaatkan keterampilan mereka, tetapi jauh dari cita-cita awal sebagai pemburu kebenaran yang idealis. Penyesalan datang bukan karena tidak suka pada bidangnya, tetapi karena bidang yang dicintai itu tidak mampu menopang kehidupan yang layak.
2. Seni dan Sosiologi (72%): Nilai yang Tidak Ternilai
Seni (72%) dan Sosiologi (72%) berbagi posisi kedua. Kedua bidang ini mengajarkan kita tentang kemanusiaan, budaya, dan struktur sosial. Namun, ketika pasar hanya menghargai apa yang dapat diukur dan dijual dengan cepat, ilmu-ilmu ini sering terpinggirkan.
Seni sering dicap sebagai "hobi mahal". Lulusan seni sering berjuang di gig economy, berhadapan dengan ketidakpastian proyek dan kesulitan menentukan harga yang adil untuk karya intelektual mereka.
Sementara Sosiologi, ilmu yang sangat penting untuk memahami masyarakat, sering gagal mengkonversi pemahaman mendalam ini menjadi posisi kerja dengan gaji tinggi tanpa melanjutkan ke jenjang pascasarjana.
4. Komunikasi (64%): Generalis yang Terlalu Banyak
Jurusan Komunikasi menawarkan keterampilan yang sangat luas, dari public speaking hingga manajemen media. Masalahnya, sifat generalis ini membuat lulusannya bersaing dengan hampir semua jurusan lain dalam peran-peran entry level seperti marketing atau social media specialist. Persaingan yang tinggi menekan gaji, membuat banyak lulusan merasa bahwa investasi waktu dan biaya kuliah tidak sebanding dengan hasil akhirnya.
5. Pendidikan (61%): Pahlawan Tanpa Gaji Pahlawan
Pendidikan adalah pilar masyarakat, namun profesi guru dan pendidik sering kali berada di bawah bayang-bayang penghargaan finansial yang minim. Tingkat penyesalan yang tinggi di jurusan ini menunjukkan kegagalan sistemik pemerintah dan masyarakat dalam menghargai peran sentral seorang pendidik.
Lulusan menyadari, bahwa meskipun mereka mencintai mengajar, beban kerja administratif dan gaji yang stagnan memaksa mereka mempertanyakan keputusan ini.
9. Biologi (52%): Jebakan Pra-Medis
Munculnya Biologi dalam daftar ini mungkin mengejutkan, tetapi ini seringkali menjadi jebakan bagi mereka yang bercita-cita menjadi dokter namun gagal lolos atau tidak mampu melanjutkan ke sekolah kedokteran.
Lulusan Biologi tanpa gelar lanjutan (seperti PhD atau MD) seringkali berakhir dengan pilihan pekerjaan laboratorium dengan gaji yang relatif rendah, atau mereka harus berpindah haluan ke industri yang sama sekali berbeda.
Paradoks Sarjana Modern: Antara Pilihan Hati dan Tuntutan Dompet
Kisah penyesalan ini sesungguhnya adalah simptom dari masalah yang lebih besar dalam lanskap pendidikan tinggi modern.
1. Tekanan Biaya Hidup dan Utang Pendidikan
Meskipun survei ini berasal dari AS yang memiliki isu utang mahasiswa yang ekstrem, fenomena serupa terjadi di mana pun biaya hidup meroket. Ketika harga properti, makanan, dan layanan kesehatan terus naik, kemampuan seseorang untuk "hidup dari passion" semakin berkurang.
Mahasiswa saat ini tidak hanya mencari pekerjaan; mereka mencari stabilitas ekonomi yang memungkinkan mereka mencapai tonggak dewasa: memiliki rumah, membangun keluarga, dan merasa aman. Jurusan yang tidak menawarkan jalur yang jelas menuju gaji kompetitif secara otomatis menjadi sumber kecemasan.
2. Kegagalan Membaca Pasar Kerja
Banyak jurusan yang disesali adalah jurusan yang dipilih karena minat murni, tanpa analisis mendalam mengenai Return on Investment (ROI) atau kesesuaian dengan kebutuhan industri 5-10 tahun ke depan.
Sistem pendidikan seringkali lambat beradaptasi. Kurikulum di jurusan Jurnalisme mungkin masih fokus pada media cetak, sementara pasar kerja menuntut ahli data dan algoritma. Mahasiswa didorong memilih berdasarkan minat masa remaja, tetapi tidak dibekali alat untuk memproyeksikan minat itu ke dalam model karier yang berkelanjutan secara finansial.
3. Penurunan Nilai "Soft Skills" yang Tidak Terukur
Jurnalisme, Sosiologi, dan Sastra Inggris adalah pabrik soft skills terbaik: komunikasi persuasif, analisis naratif, pemikiran lateral. Namun, dalam budaya kerja yang didominasi oleh STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), keterampilan-keterampilan ini sering dianggap sebagai bonus, bukan sebagai keahlian utama yang layak dihargai mahal.
Sebaliknya, jurusan yang paling sedikit disesali, menurut studi yang sama (yang tidak termasuk dalam daftar di atas), adalah Computer Science, Teknik, dan bidang Kesehatan/Keperawatan yang memiliki gaji awal tinggi dan permintaan pasar yang stabil.
Menemukan Keseimbangan yang Hilang
Penyesalan adalah guru yang kejam. Dalam kasus ini, ia mengajarkan bahwa di dunia modern, kita tidak bisa lagi mengabaikan faktor ekonomi saat memilih jalur pendidikan.
Lalu, apakah ini berarti mahasiswa harus mengorbankan gairah dan berbondong-bondong pindah ke jurusan yang hanya menjanjikan gaji besar? Tentu saja tidak. Dunia membutuhkan Sosiolog, Jurnalis, dan Seniman.
Inti masalahnya bukanlah pada bidang ilmu itu sendiri, melainkan pada ketidakmampuan institusi pendidikan untuk menjembatani jurang antara pengetahuan akademis dengan tuntutan praktis pasar kerja.
Mahasiswa masa depan—dan yang sedang berkuliah saat ini—perlu melakukan dua hal:
Pertama, Realitas Pasar: Gunakan data. Sebelum mendaftar, teliti gaji rata-rata alumni di bidang tersebut 5 tahun setelah kelulusan, bukan hanya janji idealis profesor.
Kedua, Diversifikasi Keterampilan: Jika Anda memilih Jurnalisme, tambahkan coding, analisis data, atau SEO. Jika Anda memilih Seni, pahami bisnis digital dan monetisasi melalui platform online. Jangan hanya berbekal passion; lengkapi diri dengan keterampilan yang bernilai ekonomi tinggi.
Pada akhirnya, penyesalan sarjana ini adalah cermin bagi masyarakat yang perlu mendefinisikan ulang apa arti sebuah pekerjaan yang sukses. Sukses bukan lagi sekadar mengikuti hati, tetapi menemukan titik temu yang krusial: di mana gairah Anda dapat bertemu dengan kemampuan Anda untuk membayar tagihan.
Jika tidak, ijazah hanyalah selembar kertas berharga yang gagal menunaikan janjinya. Dan beban penyesalan itu, jauh lebih berat dari beban toga di hari wisuda.

Post a Comment
2. Komentar sensitif akan dihapus
3. Gunakan bahasa yang sopan dan saling menghargai perbedaan pendapat dan sudut pandang
4. Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE