Fix! Muhammadiyah Sudah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H, Jatuh pada Tanggal Ini!

Table of Contents

Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) adalah sebuah sistem penanggalan yang dirancang untuk menetapkan satu hari dan satu tanggal yang sama di seluruh dunia. Kalender ini bertujuan untuk menyatukan umat Islam dalam pelaksanaan ibadah maupun urusan muamalah (sipil administratif), sehingga tidak ada lagi perbedaan hari raya atau awal bulan antarnegara.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai urgensi, dasar hukum, hingga penerapan teknis KHGT berdasarkan diskusi para pakar dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Mengapa Umat Islam Membutuhkan KHGT?

Selama 14 abad peradaban Islam, umat belum memiliki kalender tunggal yang disepakati secara global. Saat ini, sering terjadi perbedaan penentuan awal bulan yang bahkan bisa berselisih hingga 2, 3, bahkan 5 hari. Secara saintifik dan syar'i, perbedaan yang melebihi satu hari dianggap bermasalah karena bulan sinodis hanya berkisar antara 29 atau 30 hari.

Kehadiran KHGT menjadi solusi untuk:

  1. Membayar Utang Peradaban: Umat Kristen telah memiliki kalender Gregorian yang stabil untuk ibadah dan administrasi tanpa perdebatan, sementara umat Islam masih sering berselisih.
  2. Identitas dan Marwah: Menghilangkan persepsi bahwa umat Islam belum mampu mengorganisir waktu dengan baik sebagaimana ditekankan dalam Surah Al-Asr.
  3. Kepastian Waktu: Menghindari kekacauan waktu dalam sistem internasional, sejalan dengan amanah untuk menertibkan dunia.

Dasar Hukum dan Fikih Matlak Global

Argumentasi KHGT bersandar pada prinsip universalisme ajaran Islam. Surah Al-Anbiya ayat 92 menegaskan bahwa umat Islam adalah umat yang satu (ummah wahidah), yang seharusnya memiliki panduan waktu yang seragam. Selain itu, Surah Al-Baqarah ayat 189 menjelaskan bahwa hilal adalah tanda waktu bagi manusia dan kepentingan ibadah haji.

Secara fikih, KHGT menggunakan konsep Matlak Global (Ittihad al-Matali). Konsep ini didukung oleh mayoritas ulama (jumhur) dari mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali. Prinsipnya adalah jika hilal sudah terlihat atau terpenuhi syaratnya di satu tempat di bumi, maka hukumnya berlaku untuk seluruh penduduk dunia.

Parameter Teknis: Syarat 5 dan 8

Untuk menentukan awal bulan, KHGT menetapkan parameter global yang bersifat pasti (hisab) namun tetap berakar pada kemungkinan terlihatnya hilal (imkan rukyat). Syarat utama yang digunakan adalah:

  1. Ketinggian Hilal: Minimal 5 derajat.
  2. Sudut Elongasi: Minimal 8 derajat.

Perhitungan ini dilakukan secara geosentris (berdasarkan pusat bumi) untuk menjamin stabilitas prediksi kalender hingga ratusan tahun ke depan. Berbeda dengan perhitungan toposentris yang dipengaruhi lokasi pengamat dan cuaca, geosentris memberikan standar yang tetap bagi seluruh dunia.

Menjawab Keraguan: Masalah Otoritas dan Awal Hari

Banyak yang beranggapan bahwa KHGT membutuhkan otoritas tunggal dunia (pemimpin global) agar bisa berjalan. Namun, para pakar menjelaskan bahwa otoritas politik tidak bersifat mutlak dalam kalender. Yang terpenting adalah konsepnya kuat, ilmiah, dan dapat diterima secara sukarela oleh berbagai negara atau organisasi, seperti yang saat ini dilakukan oleh Turki dan Muhammadiyah.

Terkait waktu dimulainya hari, KHGT menggunakan tengah malam sebagai awal hari administratif untuk sinkronisasi internasional. Meski demikian, untuk urusan ibadah seperti salat Tarawih, pelaksanaannya tetap mengikuti waktu setelah salat Isya (pasca-terbenam matahari) sesuai tradisi fikih, karena waktu awal hari bersifat fleksibel.

Studi Kasus: Ramadan 1447 H

Sebagai contoh penerapan, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada tanggal 18 Februari 2026. Keputusan ini diambil karena pada tanggal tersebut, parameter 5 derajat ketinggian dan 8 derajat elongasi telah terpenuhi di daratan benua Amerika, tepatnya di wilayah Alaska.

Meskipun ada perbedaan dengan beberapa pihak yang mengecualikan Alaska karena alasan kepadatan penduduk, Muhammadiyah tetap konsisten pada parameter ilmiah global tanpa pertimbangan subjektif. Hal ini dilakukan demi menjaga akurasi sistem kalender yang telah dibangun.

Kesimpulan

KHGT adalah langkah besar menuju kemajuan peradaban Islam. Dengan beralih dari ego lokal ke perspektif global, umat Islam tidak hanya mendapatkan kepastian dalam ibadah, tetapi juga menunjukkan kesiapan dalam mengelola sistem waktu dunia secara modern dan saintifik.

Sudut Pandang
Sudut Pandang Menyajikan renungan, inspirasi, dan pandangan tentang Islam, pendidikan, serta makna hidup dari sisi iman dan ilmu. Temukan gagasan segar yang mencerahkan hati dan pikiran.

Post a Comment