Koh Dondy: Paulus vs Yesus: Siapa yang Sebenarnya Anda Ikuti?

Table of Contents
Diskusi: Koh Dondy dan Pendeta Arom

Dalam sebuah diskusi mendalam antara Dondy Tan dan seorang pendeta muda bernama Arom, terungkap berbagai perspektif kritis mengenai perbedaan antara ajaran Yesus dan Paulus, serta sejarah penyusunan Alkitab itu sendiri. Diskusi ini menyoroti bagaimana penafsiran agama mengalami evolusi seiring berjalannya waktu.

Salah satu poin awal yang dibahas adalah variasi jumlah kitab dalam Alkitab di berbagai denominasi. Martin Luther, tokoh reformasi Protestan, menolak tujuh kitab (Deuterokanonika) yang ada dalam tradisi Katolik, sehingga menyisakan 66 surat. Sementara itu, Gereja Ortodoks memiliki jumlah yang lebih banyak, bahkan mencapai 81 kitab dalam tradisi Ethiopia.

Diskusi menjadi semakin tajam ketika membahas "sisipan" dalam ayat Alkitab, khususnya mengenai konsep Trinitas. Dondy menunjukkan bahwa ayat dalam 1 Yohanes 5:7, yang menyebutkan kesatuan Bapa, Firman, dan Roh Kudus, tidak ditemukan dalam manuskrip Yunani sebelum abad ke-16. Hal ini mengindikasikan bahwa konsep Trinitas yang sempurna seringkali didasarkan pada catatan pinggir yang kemudian dijadikan ayat resmi.

Perbedaan mendasar antara ajaran Yesus dan Paulus menjadi inti perdebatan. Selama hidup-Nya, Yesus menekankan ketaatan pada Hukum Taurat bagi bangsa Israel dan menyatakan bahwa Taurat tidak akan lenyap hingga kiamat. Di sisi lain, Paulus mengajarkan bahwa Hukum Taurat telah dibatalkan melalui kematian Yesus di kayu salib, terutama bagi orang non-Yahudi.

Kondisi ini memicu pertanyaan kritis: apakah umat Kristen saat ini mengikuti Yesus atau Paulus?. Secara teologis, konsep keselamatan Paulus yang berdasarkan iman dan pengakuan mulut (Roma 10:9) berbeda dengan ajaran Yesus yang menekankan pertobatan dan ketaatan hukum (Matius 18:3).

Dondy juga memaparkan teori mengenai pengaruh Hellenisme (budaya Yunani) dalam penulisan Injil. Istilah "Logos" dalam Yohanes 1:1, misalnya, disebut memiliki akar dalam filsafat Yunani kuno seperti Platonisme. Bahkan, ada indikasi bahwa beberapa gaya penulisan Injil menyadur elemen dari epos klasik seperti karya Homer.

Terkait proses penulisan, para sarjana Alkitab mengidentifikasi adanya hubungan sadur-menyadur antar Injil. Injil Markus diyakini sebagai yang tertulis pertama kali, kemudian disadur sekitar 90% oleh penulis Matius dan 50% oleh penulis Lukas. Nama-nama penulis Injil sendiri merupakan atribusi dari bapak-bapak gereja pada abad kedua, bukan klaim langsung dari teks aslinya.

Masalah penerjemahan juga tak luput dari pembahasan. Dondy menunjukkan perbedaan antara versi Alkitab lama dan baru, seperti perubahan kata "Tuhan" menjadi "Tuan" dalam Yohanes 4:19. Selain itu, ditemukan perbedaan data angka, seperti usia Raja Ahazia saat naik takhta antara 42 tahun dan 22 tahun dalam teks yang berbeda, yang diakui sebagai kesalahan penerjemahan.

Di akhir diskusi, Dondy menjelaskan alasannya memilih Islam setelah 11 tahun mempelajarinya. Ia merasa konsep ketuhanan dalam Islam jauh lebih logis dan konsisten karena menekankan keesaan mutlak (Tauhid) tanpa pembagian pribadi. Dalam Islam, Yesus (Nabi Isa Al-Masih) tetap dihormati sebagai utusan Allah yang lahir dari perawan suci, namun bukan sebagai Tuhan.

Islam mengajarkan konsep Fitrah, di mana setiap manusia lahir dalam keadaan berserah diri kepada Pencipta. Bagi Dondy, berpindah ke Islam bukanlah meninggalkan Yesus, melainkan kembali ke prinsip ketaatan yang murni kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana yang ia yakini juga diajarkan oleh para nabi terdahulu.

Sudut Pandang
Sudut Pandang Menyajikan renungan, inspirasi, dan pandangan tentang Islam, pendidikan, serta makna hidup dari sisi iman dan ilmu. Temukan gagasan segar yang mencerahkan hati dan pikiran.

Post a Comment